PUISI DODDI AHMAD FAUJI
REFLEKSI PPN XIII
Betapa menyedihkan
ketika para peyair lebih rajin
memposting foto selfie
ketimbang mengirimkan
larik-larik yang mengusik
menggelitik dampal kaki langit
seakan ia tak percaya diri
puisinya akan melahirkan permenungan
Puisi terbaik selalu dari waktu ke waktu
berupa sekelumit kalimat yang menggugat
membentur kesadaran alam pikir
bahwa penyair sudah harus berhenti
menjadi jelangkung yang datang
tidak diongkosi
pulang tak dikasih honor
Anjrit!
Bandung, 2025
Saya membayangkan suasana sebuah ruangan hotel berbintang yang mendadak disulap menjadi arena pertemuan sastra. Pertemuan Penyair Nusantara XIII, katanya. Kursi-kursi dilapisi kain putih dengan pita emas yang agak miring, banner besar memajang wajah tokoh sastra dari berbagai daerah—dipasang dengan kualitas grafis seadanya, hasil kerja Canva panitia yang mungkin sudah kurang tidur. Di meja registrasi, panitia tersenyum dengan wajah yang kelelahan, padahal dalam hati mungkin sama-sama menahan satu pertanyaan universal: “Nanti honornya gimana?” Di tengah situasi formalitas itu, saya membaca sebuah puisi yang tidak ikut larut dalam gegap gempita, melainkan langsung menampar semua yang hadir: puisi Doddi Ahmad Fauji berjudul Refleksi PPN XIII. Ia membuka dengan kalimat yang pendek, lugas, tapi seketika membuat kita tersedak: “Betapa menyedihkan ketika para penyair lebih rajin memposting foto selfie ketimbang mengirimkan larik-larik yang mengusik.” Rasanya seperti tiba-tiba ada orang yang menyalakan lampu neon di ruang remang.
Kata “selfie” yang muncul di larik pertama itu saja sudah cukup untuk membuat saya berhenti. Jarang ada puisi yang berani memasukkan kosakata yang begitu banal, begitu sehari-hari, ke dalam ruang puitis. Kata itu biasanya hanya muncul di status WhatsApp tante atau caption Instagram anak SMA, tetapi di sini justru menjadi kata pembuka puisi. Efeknya seperti tamparan, membuat saya sadar: iya, ini memang dunia kita sekarang. Dan tentu saja, kata selfie bukan hanya berarti foto diri. Ia adalah gejala sosial. Ia indeks dari kondisi mental para penyair masa kini—bahwa wajah yang disorot kamera kadang lebih dipercayai daripada kata yang ditulis. Dan di titik inilah saya merasa Doddi sengaja melucuti ilusi penyair sebagai makhluk agung. Ia menjadikan penyair sama banal dengan pengguna TikTok, sama sibuknya dengan filter wajah glowing. Saya teringat beberapa kali melihat penyair memotret dirinya di depan panggung, lalu hasil fotonya jauh lebih cepat viral ketimbang puisinya. Realitasnya memang seperti itu, dan Doddi menangkapnya dengan satu kata sederhana: selfie.
Larik selanjutnya, “larik-larik yang mengusik menggelitik dampal kaki langit,” mengingatkan saya pada fungsi puisi yang sering kali dilupakan: bukan sekadar indah, melainkan harus mengusik. Saya bisa merasakan bagaimana bunyi berulang “-ik” (usik, gelitik, dampal kaki) menimbulkan efek fonetik yang kuat, seolah-olah kata-kata itu benar-benar sedang mencubit telinga pembaca. Ada nada hiperbolis di sana—“dampal kaki langit”—tapi justru hiperbola itulah yang membuat kita tersadar bahwa larik punya tugas menembus batas. Puisi, kata Doddi, tidak bisa hanya menjadi hiasan. Ia harus mengguncang, menggugat, membuat pembacanya terganggu. Saat penyair sibuk mencari angle wajah, larik kehilangan daya gigitnya. Saya jadi merasa seolah puisi ini sedang memberi teguran keras: jangan biarkan kata-kata hanya jadi caption di bawah foto, biarkan kata-kata kembali menjalankan mandatnya untuk mengguncang kesadaran.
Kemudian, tiba pada bagian yang menurut saya paling menohok sekaligus paling lucu: “penyair sudah harus berhenti menjadi jelangkung yang datang tidak diongkosi, pulang tak dikasih honor.” Metafora jelangkung ini brilian. Dalam kebudayaan Jawa, jelangkung adalah boneka mistis yang dipanggil datang tanpa diundang, dan pulangnya pun tidak pernah diantar. Doddi memodifikasinya untuk memotret nasib penyair dalam forum-forum sastra. Mereka dipanggil, diundang, diberi panggung, tapi kenyataannya ongkos sering kali ditanggung sendiri, dan pulang pun tanpa honor. Saya yakin banyak penyair tersenyum getir membaca larik ini, karena ia terlalu jujur. Di balik candaannya, ada kritik serius tentang ekonomi politik sastra di negeri ini: penyair dianggap simbolis, diagungkan dalam acara seremoni, tetapi sering kali diperlakukan seperti boneka yang bisa dipanggil kapan saja tanpa kompensasi. Kalau saya boleh sedikit nakal, metafora jelangkung ini bahkan terasa lebih tepat ketimbang metafora lain apa pun, sebab penyair memang sering datang seperti roh: mereka hadir, dibacakan puisinya, lalu menghilang tanpa jejak, tanpa ongkos, tanpa bayaran.
Di sinilah puisi Doddi bukan hanya estetika, melainkan juga politik. Ia membongkar paradoks posisi penyair dalam masyarakat. Penyair punya kapital simbolik—nama, prestise, gelar “sastrawan”—tapi tidak punya kapital ekonomi. Mereka dipajang di panggung, disanjung sebagai “wakil kebudayaan,” tapi ketika acara selesai, mereka pulang dengan dompet tipis. Saya membayangkan seseorang seperti Pierre Bourdieu kalau hadir di forum ini, mungkin akan langsung mengangguk: beginilah medan sastra, penuh ketidakseimbangan modal. Doddi merumuskannya dengan sangat lokal, sangat jenaka, tapi sekaligus sangat jujur: jelangkung.
Setelah menyampaikan kritik sosial itu, Doddi menegaskan tesis estetikanya: “Puisi terbaik selalu dari waktu ke waktu berupa sekelumit kalimat yang menggugat membentur kesadaran alam pikir.” Kalimat ini, bagi saya, adalah definisi ringkas tentang apa yang seharusnya menjadi ukuran puisi. Bukan panjang, bukan jumlah bait, bukan viralitas di media sosial, tetapi kemampuan sebuah larik singkat untuk mengguncang kesadaran. Saya langsung teringat teori resepsi Jauss: karya sastra bernilai ketika melampaui horizon harapan pembaca. Puisi terbaik adalah yang bisa membuat kita berhenti sejenak, merasa terganggu, lalu berpikir ulang. Doddi menulisnya dengan bahasa sederhana, tetapi di dalamnya ada seluruh tradisi kritik sastra yang panjang: bahwa sastra ada bukan untuk memanjakan, tetapi untuk mengguncang.
Dan setelah itu, semua keseriusan itu ditutup dengan sebuah kata yang singkat, padat, dan meledak: “Anjrit!” Saya tidak bisa membayangkan ada kata lain yang lebih tepat untuk menutup puisi ini. Kata itu bukan hanya penutup, melainkan sebuah ledakan emosional. Ia bekerja bukan hanya sebagai kata, tapi juga sebagai tindakan. Dalam istilah teori ujaran, kata ini adalah performatif. Begitu diucapkan, ia langsung menghasilkan efek. Orang tertawa, orang kaget, orang merasa lega. Ia seperti katup lepas dari seluruh tekanan sebelumnya. Bagi sebagian orang, kata itu mungkin terasa kasar, tapi justru di situlah kejujurannya. Setelah segala teori tentang larik, tentang fungsi puisi, tentang kritik terhadap forum penyair, Doddi memilih untuk menutup dengan satu kata spontan yang lebih jujur daripada seribu kata metafora: anjrit.
Membaca puisi ini, saya merasa seperti menonton sebuah pertunjukan stand-up comedy. Struktur puisinya persis seperti alur komedi: ada observasi sosial (penyair lebih sibuk selfie), ada eksagerasi (larik menggelitik dampal kaki langit), ada metafora absurd (jelangkung), dan akhirnya punchline (anjrit). Ini bukan kebetulan. Puisi ini memang terasa dirancang untuk dibacakan di depan forum, untuk membuat audiens bukan hanya merenung tapi juga tertawa pahit. Tawa yang muncul bukan tawa ringan, melainkan tawa yang penuh kesadaran: iya, beginilah kita, para penyair yang sering terjebak antara idealisme dan kenyataan.
Secara sosiologis, puisi ini berfungsi sebagai kritik internal komunitas. Ia tidak menyerang musuh di luar, melainkan mengingatkan para penyair sendiri. Ia seperti cermin retak yang dipasang di tengah ruangan: setiap orang melihat dirinya, tapi dengan retakan yang membuatnya sadar ada sesuatu yang salah. Fungsi semacam ini sangat penting, karena forum sastra sering kali terjebak dalam seremoni kosong. Doddi menolak ikut tepuk tangan seremonial, ia memilih mengganggu. Dan ia melakukannya dengan cara yang tidak membuat orang marah, tetapi membuat orang tertawa sekaligus merasa tertusuk.
Saya menyukai puisi ini justru karena kesederhanaannya. Tidak ada metafora yang berlapis-lapis, tidak ada simbol yang sulit ditafsir. Ia langsung menunjuk persoalan: penyair terlalu sibuk selfie, puisi kehilangan mandat, forum sering tanpa honor, dan semua itu akhirnya membuat kita hanya bisa berseru: anjrit. Dalam kesederhanaan itu, ada kedalaman. Saya merasa puisi ini bekerja di banyak level sekaligus: estetis, semiotik, performatif, politis, dan emosional. Ia bukan puisi yang ingin tampil muluk, melainkan puisi yang ingin jujur.
Dan ketika saya menutup halaman, saya merasa kata terakhir itu masih bergaung di kepala saya: anjrit. Sebuah kata yang sederhana, mungkin murahan bagi sebagian orang, tapi justru di situlah kekuatannya. Ia adalah jeritan spontan, yang lahir dari keletihan panjang, dan sekaligus mewakili suara banyak penyair yang sudah bosan dengan seremoni kosong. Saya membayangkan Doddi menulisnya mungkin dengan rasa frustrasi, mungkin dengan sedikit tawa, tapi yang jelas dengan kejujuran. Dan pada akhirnya, itulah yang membuat puisi ini berhasil: ia bukan hanya refleksi, tapi juga ledakan kecil yang membuat kita semua tertawa getir dan bertanya-tanya, sampai kapan penyair harus jadi jelangkung yang datang tanpa ongkos, pulang tanpa honor?
IRZI 09 – 2025
Glosari Njelimet
- Ostranenie: istilah Rusia (Shklovsky), artinya efek keterasingan—membuat sesuatu yang biasa jadi terasa asing agar pembaca tersentak.
- Kapital simbolik (Bourdieu): modal berupa prestise, kehormatan, nama besar—tidak selalu berbanding dengan kapital ekonomi (uang).
- Speech act (Austin): teori tentang ujaran yang sekaligus tindakan; contoh: janji, sumpah, atau “anjrit!”
- Horizon harapan (Jauss): konsep resepsi; pembaca selalu punya ekspektasi, dan karya sastra bernilai ketika melampauinya.
- Medan sastra: arena sosial tempat penulis, penerbit, kritikus berkompetisi dengan modal berbeda.
- Stand-up poetry: istilah saya sendiri untuk puisi yang strukturnya menyerupai stand-up comedy—ada setup, tension, punchline.