3 PUISI HENING WICARA

 

 

KETIKA NOVEMBER TINGGAL SETENGAH

 

Tangan kanan kita berbincang dalam jabat

Di tengah rintik rindu yang lebat

Setelah kita terpisah lima kabisat

 

Lalu, kau duduk di seberang lukaku

Di depan meja panjang yang bisu

Saat terhidang secawan kisah lucu

Kutemukan seulas senyum milik ayahku

Yang telah bertahun-tahun membeku

 

Senyum itu terbuat dari bibirmu

Yang menyemburkan mantra-mantra

Ke segala penjuru jiwaku

Seketika, kuntum-kuntum petunia di dadaku mekar, membelukar

Putik-putik mawar di sukmaku rekah,

Meruah, meriah

Bahkan luka yang tadinya menganga

Langsung sembuh terkatup dengan sendirinya

 

Kemudian, sampailah kita pada puncak kisah

Kukira tenagamu habis sudah

Menampung tawaku pecah seiring tangisku tumpah

Hingga ketika November tinggal setengah

Dan hujan masih menahan rintik gelisah

Sebuah tangan membuka pintu

Di lantai dua,

Di mana akhirnya November kita kenal

Sebagai bulan paling sakral.

 

Pekanbaru, 14 November 2025

 

***

 

CATATAN REDAKSIONAL

 Oleh : IRZI Risfandi

 Ketika November Mepet, Kenangan Menyetel Ulang Jantung

 

Di tengah rintik yang belum sepenuhnya yakin ingin menjadi hujan, kita langsung dipaksa duduk di sebuah meja panjang yang “bisu”—meja yang tampaknya lebih paham sejarah hubungan dua orang ini dibandingkan kedua manusianya sendiri. “Ketika November Tinggal Setengah” membuka diri seperti seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan lima kabisat dan memutuskan bahwa cara terbaik memulai percakapan adalah dengan meremas tangan orang yang dulu pernah membuat dada mekar atau, minimal, membuat kepala pening. Dan betul saja, Hening Wicara menempatkan kita di tengah adegan reuni yang penuh rindu dan kecanggungan—kombinasi yang biasanya memproduksi tawa gugup dan keputusan buruk. Tapi di sini, justru menghasilkan pengakuan lembut bahwa senyum seorang ayah yang sudah membeku bertahun-tahun tiba-tiba berwujud kembali lewat bibir seseorang yang duduk di seberang luka. Manis? Ya. Sedikit dramatis? Jelas. Tapi sepenuhnya berhasil menciptakan atmosfer “kok saya ikut deg-degan ya padahal bukan saya yang pernah disenyumi?”.

Puisi ini memamerkan keahlian Hening dalam meramu metafora bunga—petunia, mawar, putik, mekar membelukar—seolah dadanya adalah perpustakaan botani yang sedang buka besar-besaran. Ada keindahan yang lumayan liar di sana, tetapi juga potensi berlebih yang mengundang kritik usil: kalau seluruh flora di dadanya mekar sekaligus, apakah tokoh dalam puisi ini butuh kebun raya atau butuh inhaler? Meski begitu, kekuatan puisi ini justru terletak pada keberaniannya bermain di wilayah melodrama tanpa kehilangan kehangatan. Hening tak malu menyodorkan keterharuan yang meluber—tawa pecah, tangis tumpah, luka menutup sendiri—semuanya dibiarkan mengalir seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan cerita. Jika ada yang bisa diperketat, mungkin adalah kecenderungan metafor yang ingin tampil semua dalam satu malam, seperti penonton konser yang berdesakan ingin selfie dengan idolanya. Sedikit pemangkasan justru bisa membuat efek emosinya lebih tajam.

Dan tentu saja, tidak mungkin membicarakan puisi ini tanpa menyebut sosok di baliknya. Hening Wicara—lulusan Teknik Elektro yang nyasar dengan mulia ke dunia puisi—adalah fenomena menarik: seorang pekerja telekomunikasi yang tampaknya justru lebih sering “menyambungkan sinyal cinta, memutus jarak jiwa.” Lima buku puisi telah ia terbitkan, dua lagi sedang ia siapkan, dan entah kapan ia tidur mengingat jadwalnya yang penuh festival sastra, perjalanan lintas negara, hingga menjadi juri di berbagai ajang. Tak heran puisinya terasa seperti seseorang yang hidup di antara bandara, buku catatan, dan renungan panjang dalam perjalanan dinas. “Ketika November Tinggal Setengah” adalah bukti bahwa bagi Hening, bahasa bukan sekadar sarana ekspresi—ia adalah cara bekerja sama dengan hatinya sendiri. Dan di puisi ini, hatinya sedang lembut-lembutnya, rawan mekar, dan tanpa permisi mengajak pembaca ikut basah oleh hujan yang entah turun dari langit atau dari kelopak mata.

***

 SONATA NO.9

 

Sejak suaraku dan suaramu kembali beresonansi dalam sebuah frekuensi

Setelah dua dasawarsa kita lalui tanpa hati

Aku tahu,

Telingamu menangkap setiap kata yang kuucap sebagai nada-nada sedih

Yang terus berdenting lirih

 

Barangkali selirih Piano Sonata No.9

Yang dimainkan Alexander Scriabin

Dalam konser musim dingin

Menggigilkan rindu di labirin

 

Bahkan,

Dari jantan gelagatmu aku melihat

Hasratmu bergejolak demikian hebat

Hendak menyudahi sedihku

Dan membawaku ke halaman partitur baru

Di mana nada-nada cinta tersusun dalam birama

Melantunkan bahagia.

 

Pekanbaru, 14 November 2025

***

BAKTI HATI

 

Teduh yang kutuai dari tuturmu

Telah berubah menjadi rasa

Yang tak tersentuh kata-kata

Kian subur

Karena kusirami doa-doa

 

Fardu yang kautunai sepenuh jiwa

Telah berubah menjadi tenaga

Yang tak terbendung kuatnya

Kian berdaya

Karena kuterima dengan segenap rela

 

Tulus yang kutangkap dari sikapmu

Telah berubah menjadi permata cinta

Kian jernih

Karena kautaburi teladan penuh kasih.

 

Pekanbaru, 14 November 2025

***

 BIODATA:

 

Hening Wicara, lahir di Rantau Berangin, Riau. Selain menulis puisi, ia bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi dan berdomisili di Pekanbaru. Alumni Teknik Elektro STTTelkom Bandung ini telah menerbitkan lima buku kumpulan puisi: Tentang Kita, Embun, dan Cinta (2014), Pelangi Langit Perth (2020), Pukau Petuah (2022), Balon-Balon di Balkon (2024), dan Teka-Teki Turki (2025).

Saat ini ia tengah mempersiapkan dua buku puisi berikutnya, yakni Desir Pasir Mesir dan Kornea Korea, yang direncanakan terbit tahun depan.

Selain produktif menulis, ia aktif mengikuti berbagai agenda kepenyairan di dalam dan luar negeri, di antaranya Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (Kepulauan Riau), Pulang ke Kampung Tradisi (Garut), Kembara Nusantara (Malaysia–Singapura), serta Wisata Puisi Perruas di Turki, Mesir, dan Korea Selatan.

Ia juga sering menjadi juri dalam berbagai lomba puisi, antara lain lomba puisi Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Riau, ajang Duta Puisi yang diselenggarakan oleh komunitasnya—Forum Lingkar Pena (FLP) Riau—serta lomba Teatrikal Puisi Perkumpulan Majelis Taklim Pekanbaru.

Puisi-puisinya dan tulisan mengenai dirinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain Riau Pos, Metro Riau, Singgalang, Radar Banyuwangi, Elipsis, dan Signal (majalah internal Telkomsel). Karyanya juga tampil di berbagai media daring, seperti Tiras Time, Lampung Insider, Cakra Dunia, Perruas.com, Bual.com, Borobudur Writers, dan Pojok TIM.

 

Author: