3 PUISI IDA HERIDA

KAMI

Ribuan massa berjalan satu tujuan,
Berteriak, berorasi, satu ucapan.

Hai! Lihat, inilah kami!
Bersatu, satukan tekad membela derita.

Tuhan,
Berkati setiap langkah kami.

Kami tak arogan, sebab kami beretika.
Kami hanya ingin mereka tahu:
Kami ini ada—
Untuk dibela, diperhatikan, dan disejahterakan.

Tuhan,
Limpahkan berkah dan kasih-Mu,
Agar kami menemukan keadilan
Dari mereka yang apatis pada kami,
Yang kini tak berdaya.

***

CATATAN REDAKSIONAL OLEH IRZI RISFANDI 

Doa di Tengah Demonstrasi: Ketika Massa Mengaji dengan Megafon

Suara teriakan itu datang lebih dulu daripada puisinya. Bukan teriakan marah, tapi semacam nyanyian kolektif yang bergetar di udara lembab sore hari. Dalam “KAMI”, Ida Herida tidak sekadar menulis tentang protes—ia menulis tentang iman yang turun ke jalan sambil menenteng spanduk dan doa. Pembaca langsung dilempar ke tengah kerumunan: ribuan massa berorasi, lalu tiba-tiba, di antara megafon dan langkah kaki, ada seruan kecil ke langit, “Tuhan, berkati setiap langkah kami.” Adegan ini seperti percampuran antara rapat umum dan doa syafaat. Ida menulisnya tanpa sarkasme, tapi dengan kelembutan seorang kepala sekolah yang sedang menenangkan siswanya agar tetap sopan meski sedang memprotes sistem nilai. Dan memang, puisi ini terasa seperti rapor moral untuk dunia yang terlalu sering menegur murid tapi lupa memperhatikan manusianya.

Namun jangan salah, “KAMI” bukan puisi yang berdiri di podium moral. Ida tahu cara menyisipkan kritik sosial tanpa membuatnya kaku seperti peraturan sekolah. Ia menulis “kami tak arogan, sebab kami beretika,” dengan nada yang separuh serius, separuh geli—seolah ia sedang menasihati para demonstran agar tetap ingat sopan santun meski sedang membela keadilan. Di sinilah kelucuan lembutnya muncul: puisi ini menegaskan bahwa perlawanan pun bisa dilakukan dengan santun, bahwa bahkan doa pun bisa bersuara keras tanpa kehilangan nada lembutnya. Kalau boleh usil sedikit, “KAMI” mungkin akan terasa lebih menggigit jika Ida berani menambahkan sedikit kekacauan—misalnya menggambarkan copotnya sandal, suara toa yang serak, atau spanduk yang salah ejaan. Karena sejatinya, perjuangan rakyat selalu sedikit berantakan—dan justru di situlah keindahannya.

Ida Herida sendiri adalah sosok yang menarik: lahir di Bandung, tumbuh di dunia pendidikan luar biasa di Padang Panjang, dan kini menjadi kepala PLB Asih Putra—tempat di mana “mendidik dengan hati” bukan sekadar slogan. Ia seorang pendidik, petualang, sekaligus penulis yang tahu bahwa kebaikan tidak selalu datang dari podium, kadang dari tawa dan ketulusan di lapangan. Tak heran puisinya terasa seperti renungan di tengah aksi sosial: religius tapi tidak menggurui, tegas tapi tetap berpelukan dengan empati. Dengan “KAMI”, Ida mengingatkan kita bahwa bersuara pun bisa menjadi bentuk doa—dan bahwa terkadang, Tuhan mungkin lebih mendengarkan massa yang menjerit jujur di jalan daripada pejabat yang berdoa di kursi empuk.

***

MENANGIS

Batinku merana,
Jiwaku kelu membisu.

Tuhan, ingin aku bertanya:
Mengapa mereka yang diamanahi rakyat
Justru membisu seribu kali,
Tak punya rasa?

Mereka acuh dan apatis,
Seakan hidup hanya untuk dirinya saja.
Tiada komentar, tiada interaksi—
Sunyi dari suara rakyatnya sendiri.

Tuhan,
Tidakkah mereka sadar?
Mereka seolah bisu, buta, dan mati rasa.

Kami muak melihat semua ini!
Izinkan langkahku bersatu,
Dari raga yang tak berdaya ini,
Dan dari tangis jiwa yang membela derita.

Demi kesejahteraan kami,
Rakyat yang luka,
Yang kini tak berdaya.

***

BINTANG

Kelap kelip di langit yang tinggi,
Menghiasi malam yang gelap
Di saat aku sendiri.

Merenung dan meratapi diri,
Tentang takdir yang telah ku jalani.

Ingin aku menjadi bintang—
Tinggi… Jauh…
Dan bercahaya.

Menemani insan di setiap malam,
Yang tak jarang kabur tertutup awan.

Sampai kapan aku begini,
Didera sepi di saat ku sendiri?
Langit malam dan bintang yang menemani
Seolah mengajakku bercanda
Tentang apa yang mungkin terjadi
Keesokan hari.

***

BIODATA : 

Ida Herida, lahir di Bandung pada 26 November 1962, kini menetap di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Ia menjabat sebagai Kepala PLB Asih Putra, lembaga yang menaungi pendidikan luar biasa di kota berhawa sejuk tersebut. Di sela kesibukan profesionalnya, Ida dikenal sebagai sosok yang gemar menjelajah alam, menulis, dan menikmati kuliner sebagai cara mensyukuri kehidupan.

Baginya, hidup adalah ruang kontemplasi dan pengabdian. Motto yang dipegangnya menggambarkan kerendahan hati itu: “Tuhan menciptakan tangan manusia bukan untuk meraih bintang atau menggapai langit, melainkan untuk menadahkan doa dengan kepala tertunduk, memuji dan bersyukur kepada-Nya.”

Author: