Episode Pilot — Merayakan Kemenangan Pak DalangJangAshoy di Penghargaan Sastra BRICS
Tak ada yang benar-benar tahu kapan kabar itu pertama kali muncul—apakah dari siaran radio kampus yang sudah tiga kali di-hack oleh mahasiswa sastra, atau dari grup WhatsApp “Penyair Sosronegoro Bersatu Tapi Sering Salah Tafsir.” Yang pasti, pada hari itu, di kota kecil yang dipenuhi warung kopi, spanduk bekas caleg, dan toko fotokopi yang buka 24 jam, kabar besar itu meledak seperti kembang api yang dinyalakan di siang bolong: Pak DalangJangAshoy memenangkan Penghargaan Sastra BRICS!
“BRICS apaan?” tanya Pak Sum, pemilik warung kopi Titik Dua, sambil mengaduk kopi hitamnya yang sudah terlalu hitam untuk disebut kopi. “Internasional, Pak,” jawab Daru, mahasiswa sastra yang sudah kuliah sembilan tahun tapi baru lulus satu mata kuliah. “Itu penghargaan sastra antarnegara. Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan. Sekarang, Indonesia!”
“Hebat! Jadi kita sudah setara sama Rusia!”
“Setara secara diksi, Pak,” jawab Daru, penuh kebanggaan yang tak bisa dijelaskan secara akademik.
Warung Titik Dua langsung menjadi markas perayaan tidak resmi. Setiap orang yang merasa pernah membaca puisi Pak Dalang, atau minimal pernah duduk di sebelahnya saat beliau membaca puisi, datang berduyun-duyun. Ada yang membawa bunga, ada yang membawa rekaman pembacaan puisi DalangJangAshoy tahun 2014 yang suaranya kalah sama kipas angin. Mereka semua yakin, ini bukan kemenangan individu. Ini kemenangan bangsa. Atau setidaknya, kemenangan warga Sosronegoro yang biasanya cuma viral karena lomba balap karung tingkat RT.
Ironinya, Pak DalangJangAshoy sendiri tidak tahu dia menang.
Pagi itu, dia sedang menyiram tanaman lidah mertua di halaman rumahnya—yang juga difungsikan sebagai sanggar sastra, kantor redaksi majalah Metafora Mingguan, dan gudang beras. Telepon berdering. Suara perempuan dari Jakarta, entah dari kementerian atau lembaga dunia, mengabarkan bahwa puisinya “Pagi di Atas Kartu BPJS yang Retak” terpilih sebagai karya terbaik di ajang BRICS Literary Award.
“Yang benar, Mbak?” tanya Dalang, dengan nada seseorang yang baru dikabari memenangkan doorprize magic com.
“Benar, Bapak. Selamat, dunia mengakui Anda.”
“Oh… dunia, ya?” gumam Dalang. “Sudah lama saya curiga dunia ini tidak punya selera.”
Dia menutup telepon dengan perasaan campur aduk: senang, bingung, dan sedikit khawatir—karena belum tentu BRICS itu benar-benar nyata. Ia pernah hampir ditipu undangan seminar internasional di Nigeria yang ternyata minta biaya registrasi dalam bentuk pulsa.
Sore itu, warga Sosronegoro mengadakan rapat darurat di balai kelurahan. Ketua RW tampil serius seperti sedang memimpin sidang PBB versi kampung. “Kita harus rayakan kemenangan Pak Dalang!” katanya berapi-api. “Beliau sudah mengharumkan nama Sosronegoro di kancah global!”
“Betul!” sahut Bu Mardi, pemilik toko fotokopi. “Saya siap nyumbang spanduk. Tapi font-nya mau pakai Times New Roman atau yang mirip aksara Jawa?”
“Yang penting besar,” jawab Ketua RW. “Biar bisa dibaca satelit!”
Panitia perayaan dibentuk dengan efisien tapi tanpa arah. Ada seksi konsumsi (ibu-ibu PKK yang lebih semangat bikin pastel daripada baca puisi), seksi dekorasi (anak muda karang taruna yang menggantung lampu hias bekas nikahan), dan seksi sastra (yang isinya cuma Daru karena dia satu-satunya yang tahu bedanya puisi dengan status Facebook).
Malam perayaan berlangsung di lapangan kecamatan. Spanduk besar terbentang:
“SELAMAT ATAS KEMENANGAN INTERNASIONAL PAK DALANGJANGASHOY – KEBANGGAAN SOSRONEGORO MENUJU BRICS DAN SURGA LITERASI.”
Di bawahnya, foto Dalang sedang memegang naskah puisi sambil senyum miring—hasil crop dari acara tahlilan, tapi wajahnya tampak penuh semangat.
Ketika Dalang tiba, semua orang berdiri. Ada musik marching band yang fals tapi heroik. Anak-anak kecil menabuh galon air mineral. Dalang berjalan pelan, memakai batik yang disetrika setengah.
“Saudara-saudara!” seru Ketua RW dengan mikrofon yang mendengung. “Inilah bukti bahwa penyair dari Sosronegoro bisa menaklukkan dunia tanpa harus ikut sinetron!”
Sorak-sorai meledak. Ada kembang api. Seekor ayam lepas dari kandang—menambah dramatisasi. Dalang naik ke panggung, menatap warga satu per satu, lalu langit, lalu kembali ke warga. Mungkin mencari makna, atau mungkin mencari posisi lampu supaya tidak silau.
“Terima kasih,” katanya pelan. “Sungguh saya tidak tahu harus berkata apa. Biasanya kalau menang, orang disuruh pidato. Tapi saya takut nanti dikira puisi.”
Tawa pecah.
“Yang saya tahu, saya menulis karena tidak bisa tidur. Kalau malam sunyi, saya tulis apa saja: tentang panci yang retak, tentang listrik yang nunggak, tentang tetangga yang memelihara ayam tapi tidak pelihara akal. Lalu entah bagaimana, dunia bilang itu indah. Mungkin dunia sedang bosan dengan puisinya sendiri.”
Semua orang terdiam. Sejenak suasana berubah puitis, lalu kembali riuh saat panitia memutar lagu dangdut berjudul “Cinta dalam Dikdiksioner.”
Keesokan harinya, berita kemenangan itu menyebar. Televisi lokal menayangkan liputan eksklusif:
“Penyair Lokal, Global di Jiwa, Lokal di Dompet.”
Reporter mewawancarainya sambil terus salah sebut nama.
“Jadi, Pak Dulang, bagaimana perasaan Anda?”
“Antara bangga dan lapar,” jawab Dalang.
“Apakah Bapak akan berangkat ke luar negeri?”
“Kalau tiketnya dibayar, ya. Kalau tidak, saya kirim puisi via pos saja. Diksi tidak butuh visa.”
Stasiun TV nasional ikut meliput. Karena redakturnya tak tahu BRICS itu apa, mereka menulis judul alternatif:
“Sastrawan Indonesia Menang di Ajang Misterius, Diduga dari Luar Negeri.”
Selama seminggu, Sosronegoro berubah jadi ibukota sastra dunia. Ibu-ibu pasar menulis haiku di timbangan digital. Tukang ojek menulis soneta di bon bensin. Anak muda membuat zine berjudul “BRICS dan Aku yang Tak Pernah ke Brasil.” Tapi lambat laun, kemenangan itu terasa janggal. Tak ada undangan resmi, tak ada trofi, tak ada uang hadiah. Hanya satu surel dari lembaga BRICS:
“Terima kasih atas partisipasi Anda. Penghargaan ini bersifat simbolis. Kami bangga dengan kontribusi Anda terhadap keanekaragaman budaya global.”
Dalang membaca surel itu berulang kali. “Simbolis? Jadi saya menang simbol?”
Ia menatap cermin. Wajahnya tampak biasa saja. Tidak lebih bercahaya daripada kemarin. Di warung kopi, orang masih memesan utang. Di rumah, listrik masih nyala-mati. Tapi di luar sana, ada dunia yang percaya ia pemenang.
Malam itu, ia duduk di beranda, ditemani kopi dan suara jangkrik yang terdengar seperti mesin tik butut. Ia membuka buku puisinya, menatap halaman kosong. Ingin menulis tentang kemenangan, tapi yang keluar hanya keluhan. “Kenapa kalau menang rasanya tetap kalah?” katanya lirih.
Kembang api sisa perayaan masih meletup di kejauhan. Seorang tetangga mabuk lewat sambil berteriak, “Hidup BRICS! Hidup Dalang!”
Dalang tersenyum. Ada sesuatu yang hangat di dada, antara lega dan sedih. Ia tahu, besok semuanya akan lupa. Tapi untuk satu minggu yang absurd, mereka pernah percaya bahwa seorang penyair dari gang sempit bisa memenangkan dunia. Dan mungkin, pikirnya, itu sudah cukup.
Beberapa bulan kemudian, banner perayaan masih tergantung di depan balai kelurahan. Warnanya pudar, wajahnya separuh terkelupas, tapi nama DalangJangAshoy masih terbaca. Di bawahnya, seseorang menulis dengan spidol hitam: “Masih ngutang kopi tiga gelas.”
Daru melewati banner itu tiap pagi. Ia masih menceritakan kisah kemenangan Dalang kepada siapa pun yang mau mendengar—atau tidak. “Beliau bukan sekadar penyair,” katanya. “Beliau adalah lambang. Simbol. Metafora berjalan. Perpaduan antara Rendra dan driver ojek daring.” Orang-orang hanya mengangguk sopan, pura-pura sibuk main HP.
Suatu sore, Dalang datang lagi ke warung Titik Dua. Tak ada yang mengenalinya lagi kecuali Pak Sum.
“Pak Dalang,” sapa Pak Sum, “kok sepi, nggak nulis lagi?”
“Saya masih nulis, Pak,” jawabnya. “Tapi sekarang nulisnya di kepala. Biar nggak dicetak orang lain.”
Ia menyeruput kopi, menatap ke jalan. Anak-anak main bola pakai bola plastik, meneriakkan nama pemain dunia yang salah eja. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan di sana—mirip dirinya sendiri.
“Pak Dalang,” tanya Pak Sum, “kemenangan kemarin itu… beneran, ya?”
“Beneran, tapi nggak sepenuhnya nyata.”
“Lho, gimana itu maksudnya?”
“Begini, Pak,” katanya sambil tersenyum tipis. “Kadang kemenangan itu cuma cara lain untuk bilang kita sudah kalah terlalu lama.”
Pak Sum mengangguk, pura-pura paham. Dalang menatap gelasnya. Di permukaan kopi, bayangan wajahnya bergetar kecil, seperti puisi yang ingin dibaca tapi takut didengar. Ia berpikir: mungkin hidup memang begitu—antara larik dan jeda, antara tawa dan sepi, antara Sosronegoro dan dunia yang tidak pernah benar-benar membaca puisimu tapi tetap menepuk punggungmu seolah mereka mengerti.
Dan di detik itu, ketika angin sore melintas, Dalang merasa damai. Tidak karena BRICS, tidak karena dunia, tapi karena kopi masih hangat, dan ia masih punya kata yang belum ditulis.
Ia menulis di tisu warung kopi itu, dengan pena murahan:
“Puisi terakhir untuk penghargaan yang tidak pernah ada, tapi membuat kami semua percaya bahwa keindahan bisa menipu—dan penipuan pun kadang indah.”
Ia menaruh tisu itu di bawah gelas, membayar dengan uang pas, lalu berjalan pulang perlahan, melewati banner pudar, melewati suara radio kampus yang masih memutar berita kemenangannya. Di ujung jalan, ia berhenti, menatap langit Sosronegoro yang oranye kebanyakan polusi, dan tersenyum getir.
“Terima kasih, dunia,” bisiknya, “Sudah percaya, meski sebentar.”
Dan malam pun datang pelan-pelan, membawa sisa tawa, aroma kopi, dan satu nama yang tetap hidup di antara puisi dan kesalahpahaman: DalangJangAshoy.