Cerpen Mustiar Ar
PAGI itu langit Meulaboh masih menampakkan rona lembutnya. Kabut tipis bergelayut di atas atap seng yang berkarat, dan di antara kepulan asap dapur, seorang lelaki muda bernama Rahmad berjalan pelan sambil membawa termos kopi dan dua bungkus nasi gurih. Ia bekerja sebagai tukang parkir di depan rumah makan kecil milik seorang janda tua bernama Mak Su.
Rahmad tidak banyak bicara. Hidup baginya adalah perjalanan yang mesti diterima dengan dada lapang. Kadang ia menatap jauh ke arah barat, ke laut yang biru dan tak bertepi, seolah mencari sesuatu yang hilang dari hidupnya. Sejak ayahnya meninggal karena tenggelam di laut Ujong Drien, Rahmad tumbuh dalam bayang kesunyian yang panjang.
Setiap pagi, setelah menata kursi-kursi plastik dan memberi salam pada pelanggan pertama, ia duduk di pinggir trotoar, menatap roda-roda kendaraan yang datang dan pergi.
“Hidup ini seperti parkiran,” katanya suatu kali pada Mak Su sambil tersenyum. “Ada yang cuma singgah sebentar, ada pula yang menetap sampai berkarat.”
Mak Su hanya tertawa kecil sambil menuang kopi. “Kau ini, Rahmad, terlalu dalam kalau bicara. Orang kota tak akan paham.”
Rahmad tersenyum lagi. Ia memang tak pandai berdebat. Tapi di dalam diamnya tersimpan lautan makna — sebuah keyakinan bahwa setiap yang kecil dan sunyi tetap punya tempat di bawah langit yang luas.
—
SIANG itu terik menggigit. Jalanan Meulaboh mendidih oleh panas, tapi kehidupan tetap bergulir seperti biasa. Sopir-sopir becak motor berteriak menawarkan jasa, anak-anak sekolah berjalan dengan seragam yang mulai pudar, dan Rahmad masih di tempatnya, menjaga deretan motor yang sesekali dipindahkannya agar tak menutupi pintu warung.
Dari kejauhan, seorang perempuan muncul, berjalan pelan menuntun dua bocah kecil. Langkahnya ragu, tapi senyumnya tulus. Rahmad menatap, matanya sedikit menyipit karena silau, lalu berhenti sejenak — hatinya seperti tersentak. Itu Siti, gadis yang dulu ia sukai di masa sekolah.
Siti kini tampak lebih matang. Wajahnya lembut, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang dalam — mungkin lelah, mungkin juga kenangan yang belum sembuh.
“Rahmad?” katanya setengah ragu.
Rahmad menoleh, sedikit kaget, lalu tersenyum. “Iya, ini aku. Sudah lama ya, Sit.”
Percakapan mereka sederhana. Tentang masa sekolah, tentang kampung yang kini makin ramai, tentang harga ikan yang naik. Namun di balik kata-kata ringan itu, ada perasaan yang bergetar pelan, seperti daun yang disentuh angin sore.
Kedua bocah kecil itu — yang Siti sebut Ayu dan Baim — berlarian di halaman, tertawa kecil sambil mengejar seekor kucing belang tiga yang mondar-mandir di bawah meja. Rahmad memperhatikan mereka dengan senyum samar. “Mereka lucu,” katanya.
Siti mengangguk pelan. “Mereka hidupku sekarang. Suamiku kerja di luar kota. Kadang kirim kabar, kadang tidak.”
Rahmad tidak menanggapi. Di dalam dadanya ada sesuatu yang seperti mengaduk-aduk tenang. Bukan cemburu, bukan pula penyesalan — hanya semacam haru yang tak sempat lahir jadi kata. Ia menatap langit yang mulai temaram, di mana burung-burung camar terbang rendah pulang ke arah laut.
—
SORE itu hujan turun tiba-tiba. Deras, deras sekali, seolah langit ingin menumpahkan seluruh kesedihannya ke bumi. Rahmad tetap di pos parkirnya, memindahkan sepeda motor agar tak terendam. Pakaian basah, tapi ia tak peduli. Ia tahu hujan seperti ini bukan musuh — justru teman yang sering menemaninya dalam sepi.
Dari dalam warung, Siti memandang Rahmad yang kuyup itu. Ada sesuatu di dadanya yang menyesak. Ia ingin memanggil, tapi suaranya tertahan. Ada batas yang tak bisa dilanggar, ada garis waktu yang tak mungkin diputar.
Mak Su datang membawa handuk kecil. “Kau ini, Rahmad, kalau terus seperti ini bisa masuk angin.”
Rahmad tertawa kecil. “Tak apa, Mak. Angin juga makhluk Tuhan. Ia cuma lewat.”
Mak Su menatap anak muda itu lama-lama. Di balik kesederhanaannya, ia melihat sesuatu yang jarang dimiliki orang lain: ketulusan yang tak berpamrih. Kadang, di malam sepi, Mak Su merasa Rahmad bukan sekadar tukang parkir, tapi semacam malaikat yang tersesat di bumi Meulaboh.
—
HARI-HARI berikutnya berjalan seperti biasa. Tapi semenjak pertemuannya dengan Siti, ada sesuatu yang berubah di hati Rahmad. Ia mulai menulis lebih sering — di potongan kertas bekas, di balik nota parkir, bahkan di punggung bungkus rokok yang ia pungut dari lantai.
Kata-katanya lembut, tapi menggigit. Ia menulis tentang laut, tentang ibu, tentang hujan yang menetes di dada malam, juga tentang seorang perempuan yang pernah ia cintai diam-diam dan kini hidup di bawah atap lain.
Malam-malamnya menjadi lebih panjang. Kadang ia duduk di tepi jalan setelah semua motor pulang, memandangi langit sambil menyalakan rokok kretek yang disulut dari bara sisa arang di warung. Angin laut berembus pelan membawa bau garam dan kenangan.
Di bawah sinar lampu jalan yang redup, Rahmad menulis:
> “Hidup adalah parkiran tak bernama. Ada yang datang tanpa salam, ada yang pergi tanpa pamit. Tapi langit tetap meneduhkan siapa saja yang ikhlas menunggu.”
Suatu malam, setelah warung tutup dan jalan mulai sepi, Rahmad menatap langit yang penuh bintang. Ia teringat ibunya yang dulu sering berkata,
> “Langit itu tempat beristirahatnya doa-doa orang kecil, Mad. Jangan takut hidup miskin, asal jangan miskin harapan.”
Sejak itu Rahmad tak pernah benar-benar merasa sendiri. Setiap kali angin laut berhembus, ia merasa seperti dipeluk sesuatu yang besar — hangat, lembut, dan penuh pengertian.
—
BEBERAPA minggu kemudian, Siti kembali datang. Tapi kali ini ia sendiri, tanpa bocah-bocahnya. Wajahnya tampak pucat, seperti orang yang sedang menahan badai di dalam dada.
“Rahmad…” suaranya lirih. “Aku ingin titip anak-anakku sementara waktu. Aku harus ke Banda Aceh mencari kabar suamiku. Katanya ada kecelakaan kapal di pelabuhan.”
Rahmad terdiam. Ia ingin menolak, tapi tak sanggup. Ada getaran halus dalam suara Siti yang membuatnya tak kuasa berkata tidak.
“Baiklah,” katanya pelan. “Biar mereka tinggal sementara di rumah Mak Su. Tak usah khawatir, Sit.”
Hari-hari setelah itu menjadi lebih ramai. Ayu dan Baim bermain di sekitar warung, membawa tawa yang sudah lama tak terdengar di sana. Rahmad menjaga mereka seperti kakak sendiri, menuntun mereka menyeberang jalan, mengajarkan cara menulis nama di pasir.
Siti akhirnya kembali sepekan kemudian. Wajahnya basah oleh air mata.
“Rahmad…” katanya lirih. “Dia tak kembali. Kapalnya tenggelam.”
Rahmad hanya diam. Langit sore itu merah, seperti menyimpan luka dunia. Ia tahu, ada kalimat yang tak perlu diucapkan, karena sudah mengalir di udara. Ia hanya menunduk, memandang pasir yang lembab oleh hujan sisa siang tadi.
—
SEJAK hari itu, Siti lebih sering datang ke warung Mak Su. Kadang membantu di dapur, kadang sekadar duduk sambil menatap laut. Rahmad tetap seperti biasa — menjaga parkiran, menulis puisi, sesekali bercanda dengan anak-anak. Tapi entah mengapa, kini hidup terasa lebih hangat.
Satu sore yang tenang, Rahmad duduk di tepi trotoar, menatap langit jingga yang mulai menua. Ia menulis pelan di secarik kertas:
> “Langit tak pernah marah pada hujan. Ia hanya belajar bagaimana menurunkan beban dengan cara paling lembut.”
Ia tersenyum, melipat kertas itu, dan menyimpannya di saku baju. Lalu menatap ke atas — ke langit yang tenang, seolah berbicara dengan Tuhan dalam bahasa yang hanya mereka berdua mengerti.
Langit diam, tapi Rahmad tahu: diamnya adalah pelukan.
Dan malam pun menjadi saksi bahwa di bawah langit yang luas, orang-orang kecil seperti Rahmad masih terus bertahan — dalam pelukan yang tak pernah lelah. ***
—
Mustiar Ar atau yang akrab disapa Oneh Kubu, lahir di Meulaboh, Aceh, 15 April 1967. Ia merupakan penyair dan penggiat seni Aceh Barat yang tetap produktif meski seorang penyandang disabilitas. Selain bekerja sebagai tukang parkir, ia aktif menulis puisi, cerpen, dan opini sosial. Karya-karyanya sering dimuat di media cetak Aceh dan Medan, dengan tema kemanusiaan, lingkungan, dan kehidupan sederhana. Puisinya tergabung dalam sejumlah antologi, antara lain Nuansa Pantai Barat (1993), Halimun Malam (1994), Deru Pesisir (1994), Seulawah (1995), dan Ziarah Ombak (2005).