Oleh Doddi Ahmad Fauji
Sekarang ini, karya puisi bertebaran di mana-mana, di beranda sosial media, di website, dalam e-book, atau dalam koran, majalah, dan buku cetak. Penulisnya datang dari beragam kalangan, dari mulai yang berpendidikan rendah (lulusan setingkat SD) hingga yang berpendidikan tinggi (doktor, S3). Jenis puisi yang ditulisnya pun variatif, dari puisi lama macam pantun, gurindam, talibun, bidal, seloka, dll., hingga puisi modern, kontemporer, dan puisi impor macam haiku, tanka, soneta, terzina, akrostik, juga puisi dengan pola tuang baru yang digagas oleh para penyair, macam puisi Sonian yang dicetuskan oleh penyair alm. Soni Farid Maulana (moga Allah melipatgandakan pahala untuk jasanya), puisi Patidusa (empat tiga dua satu) oleh Agung Wibowo, puisi Anagram oleh Chorul Anam, Saihu oleh Kide Andana, dan lain-lain. Kebangkitan ini bagus adanya, karena dapat merangsang kreativitas penulis, dan syukurlah tiap jenis puisi ada penggemarnya masing-masing.
Bukan hanya puisi, tulisan artikel, prosa, naskah drama, dan lain-lain, kini marak ditulis oleh berbagai kalangan, di berbagai negara di dunia ini. Di China, dalam sehari bisa terbit 2.000 judul novel dan buku puisi jumlahnya bisa dua kali lipat, sedang di Indonesia diperkirakan dalam sehari terbit 100 buku puisi. Kebangkitan puisi ini, kalau mau jujur, muncul berkat penemuan sosmed terutama facebook, yang memberi ruang kepada pengguna untuk menulis-baca lewat status, yang lebih intim dan mudah, karena bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan alatnya hanya handphone. Hasilnya ces pleng. Saat itu ditulis, diunggah, dan tak lama kemudian bisa dapat respons, baik berupa like, atau komentar, yang tentu bisa membahagiakan si penulis. Hasil kreativitas pengguna sosmed itu sejalan dengan naluri narsistik yang dimiliki manusia, sehingga menulis status di sosmed yang bisa mendatangkan pujian, telah melahirkan zat adiktif, yang membuat si pengguna jadi kecanduan ber-sosmed.
Kebangkitan kreativitas menulis di sosmed itu, diperkuat oleh pencetusan Gerakan Literasi Nasional (2015) dan Gerakan Literasi Sekolah (2016) oleh pemerintah. Maka di sekolah pun, guru dan murid, mulai keranjingan menulis dan membukukannya.
Gerakan literasi ini harus terus dikawal oleh para praktisi dan pakarnya di bidang tulis-menulis, supaya menghasilkan buah yang subur, lezat, dan bergizi untuk jiwa bangsa Indonesia. Karya tulis yang baik, prosa yang menggugah, artikel yang melahirkan permenungan, atau puisi-puisi yang inspiratif, bisa membangkitkan imajinasi pembaca, dan imajinasi adalah sumur dari segala yang namanya kreativitas atau penciptaan. Penciptaan produk peralatan sehari-hari, kenapa bentuknya begini atau begitu, warnanya seperti ini atau seperti itu, bukan semata-mata tercipta karena pertimbangan fungsi prakgamatiknya, tapi juga muncul karena pertimbangan selera dan nilai artistiknya. Bahkan piranti teknologi yang canggih pun, kelahirannya diawali oleh daya jelajah imajinasi.
Beberapa teknologi canggih misalnya handphone, telah muncul dalam film kartun sejak akhir dekade 1960-an, dan pada awal dekade 1990-an, handphone menjadi benda nyata. Peralatan dalam film ‘Star Trek’ atau ‘James Bond’ yang hanya imajinasi fiksi ilmiah, kini mulai jadi kenyataan. Bisa disimpulkan, perkembangan imajinasi itu terdampak oleh bacaan yang memuat imajinasi pula, dan karena negara modern sudah berkembang literasi bacanya sedari dulu, maka mereka menjadi pelopor dalam penemuan piranti teknologi tingkat tinggi.
Nah, gerakan literasi yang baru dicanangkan di Indonesia dalam satu dekade ini, saya yakin akan menghasilkan buah kreativitas yang mengagumkan di masa yang akan datang, semoga saat Indonesia memasuki tahun emas pada 2045 nanti, perkembangan literasi dan dampaknya, telah mengagumkan dan mensejahterakan rakat sebanyak-banyaknya.
Puisi bukan hanya sumur imajinasi, tapi juga bisa menjadi sarana untuk healing dan terapi. Saat saya sakit pada 2023/2024, setahun bedrest, banyak hal terpikirkan, terutama prilaku tidak baik dari waktu ke waku, seolah datang minta balas, yang membuat jiwa saya terguncang. Karma itu, dibalas bahkan sejak di dunia ini. Saya butuh healing dan hiburan batin, yang bisa menjadi sarana atau pernyataan bertaubat pada perbuatan keliru. Lalu saya coba menulis puisi di HP, ternyata itu dapat menghibur batin yang murung. Curhat melalui kata-kata dalam bentuk puisi, dapat mengurangi beban batin.
Saya teringat kembali pada puisi berkait karangan Sapardi Djoko Damono (SDD) yang diulas oleh A Teuuw, tentang tiga puisi yang berkaitan: Sebelum, Saat, Sesudah mengantarkan jenazah. Tiga judul puisi SDD itu saya sebut saja trilogi puisi berkait. Saya ingat tahun 2018 pernah mengajak kawan-kawan alumni Diksatrasia UPI Bandung untuk menulis puisi trilogi berkait: sebelum, saat, sesudah, dengan tema Ziarah Batin. Responnya cukup bagus, dan beragam puisi bermunculan.
Saya memandang perlu mengulang menulis puisi trilogi sebagai sarana hiburan batin. Maka muncul ide menulis trilogi puisi berkait ini dengan tema Ritus Katarsis, yang saya maknai sebagai suatu upaya semacam berdoa, beribadat, intinya aksi yang direncanakan untuk mengubah jiwa yang terhimpit jadi ‘plong’ atau katarsis (Inggris), aufklarung (Jerman), enlightenment (Inggris), tercerahkan (Indonesia). Ya, orang sakit (fisik dan psikis) butuh ruang yang bisa mencerahkan.
Saya mengajak beberapa kawan penyair, rupanya banyak yang tertarik, dan jadilah puisi-puisi dalam buku ini, dengan beragam gaya dan bahasa. Memang setiap orang pada akhirnya membutuhkan ruang untuk healing melalui ritual (kegiatan) guna mencapai katarsis itu.
Beberapa penyair dalam buku ini ada yang sudah ikut dalam antologi trilogi puisi berkait Ziarah Batin (2018), dan beberapa penulis baru, merasa tertantang untuk memasuki alam ritus katarsis lewat puisi.
Trilogi puisi berkait ini mendatangkan tantangan tersendiri. Ia diikat oleh fragmen waktu (sebelum, saat, sesudah), sekaligus diikat oleh tema yang kontemplatif, terkesan arkaik, dan benar-benar bukan asal menumpahkan asa dan rasa. Tantangan yang berat namun logis dan realistis, bisa menghasilkan kreativitas yang makin membaik, dan ini akan berdampak pada peningkatan kualitas intelegensia masing-masing penulisnya.
Di bawah ini adalah trilogi puisi bekait gubahan Sapardi Djoko Damono yang menjadi inspirasi awal itu.
Saat Sebelum Berangkat
Mengapa kita masih juga bercakap
Hari hampir gelap
Menyekap beribu kata di antara karangan bunga
Di ruang semakin maya, dunia purnama
Sampai tak ada yang sempat bertanya
Mengapa musim tiba-tiba reda
Kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
Di luar para pengiring jenazah menanti
*
Berjalan di Belakang Jenazah
Berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya.
*
Sehabis Mengantar Jenazah
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, matahari yang senja
pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda Tanya
masih adakah? alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba.
Tiga puisi karya SDD di atas terlihat sebagai trilogi puisi yang berkaitan secara waktu: sebelum, saat, sesudah mengantarkan jenazah. Pada puisi pertama ‘Sesaat Sebelum Berangkat’, mengisahkan dialog dengan diawali pertanyaan: ‘mengapa kita masih juga bercakap’ padahal sudah waktunya berangkat, apalagi ‘hari hampir gelap’, ‘di luar pengiring jenazah menanti’.
Puisi pertama ini terasa mistis, karena muncul pertanyaan, siapa saja yang sedang berdialog itu? Apa kepentingan si aku lirik bertanya, dan kepada siapa pertanyaan diajukan? Pertanyaan ini seperti teka-teki, yang mengajak pembaca untuk merenungkan jawabannya. Mungkin jawaban tidak tertemukan. Namun, puisi yang bisa mengajak pembaca untuk merenung dan menganlisis, telah berhasil setidaknya menjadi ruang untuk belajar dan berpikir.
Puisi kedua, berjudul “Berjalan di Belakang Jenazah” mengisahkan kehampaan perasaan si pengantar jenazah. Hidup manusia pada akhirnya kelak akan bertemu dengan kehampaan. Suasana kehampaan yang dirasakan si tokoh dalam puisi, mengingatkan saya pada tulisan BJ Habibie sebelum wafat, menuturkan tentang kesepian dan kehampaan manusia. Habibie curhat, punya anak dan berhasil semua. Mereka datang menengok hanya sekejap, lalu kembali ke keramaiannya, sedang Habibie yang merindukan ditunggui anaknya, telah ditinggalkan dan kembali berkawan dengan sepi, dengan sunyi. Ia mengenang pernah begitu jaya hingga jadi Presiden, tapi kini semua itu kosong, karena ternyata, ketika ajal mendekat, para pengagumnya tak ada yang menungguinya, ikut mentlalkinkannya sebelum hembusan napas terakhir. Bisa jadi rasa kesepian yang memuncak, telah mempercepat kematian Pak Habibie.
Puisi ketiga, Sehabis Mengangantarkan Jenazah’ kembali kegelisahan si tokoh (aku lirik) dihadirkan, sebab isi puisi diawali dengan larik pertanyaan: masih adakah yang akan kautanyakan/ tentang hal itu?
Ketiga puisi Sapardi ini tidak menyodorkan cerita yang utuh dari A sampai Z, sebab sejatinya puisi, meski harus ada unsur cerita di dalamnya, tidak dituntut untuk mengedepankan cerita seperti dalam prosa. Cerita dalam puisi seringkali berupa fragmen yang terpenggal-penggal. Namun dari penggalan-penggalannya, seperti ada kelebat yang terasakan atau terpikirkan. Apa yang berkelebatnya itu? Nah, pertanyaan inilah yang bisa menstimulus si pembaca untuk berpikir. Berpikir atau tafakur, itulah ciri dan pembeda manusia dari hewan. Kata filsuf Plato, manusia adalah hewan yang berpikir.
Semoga puisi-pusi dalam buku ini, menjadi sarana healing bagi penulisnya, dan menginspirasi bagi para pembaca. Kebangkitan puisi, semoga pula bukan hanya kebangkitan kepenulisannya, tapi juga bangkit di muara akhir apresiasinya. [ * ]