1.
Pesawat tidak pernah mendarat di Ciledug, tapi setiap sore langitnya selalu tampak seperti hendak menurunkan sesuatu: entah hujan, entah kesadaran. Di sanalah, di sebuah warung kopi yang tak punya izin bangunan tapi punya akun Instagram aktif, Kontong duduk memandangi lampu neon yang berkedip seperti sinyal harapan yang sudah dua kali dicoba tapi tetap gagal terkoneksi. Ia baru saja selesai tampil di acara open mic poetry & stand-up healing session—sebuah kegiatan hibrida di mana orang-orang membaca patah hati mereka di mikrofon, lalu pura-pura menertawakannya agar tampak dewasa. Mimit duduk di kursi seberang, menulis sesuatu di buku catatan lusuh, rambutnya diikat seadanya seperti seseorang yang sedang menyembunyikan keputusan besar. Di sela aroma kopi sachet dan asap rokok elektrik, percakapan mereka tumbuh pelan, seperti lagu lama yang diputar lewat speaker rusak.
“Aku nggak tahu ya,” kata Kontong, “kenapa orang-orang sekarang nyari cinta tapi takut kelihatan serius. Kayak semuanya cuma mau versi trial tanpa commitment fee.”
Mimit tidak menatapnya, hanya menulis sesuatu di buku catatannya. “Mungkin karena sekarang bahkan perasaan bisa dibatalkan kayak langganan Netflix,” katanya pelan.
Kontong tertawa, tapi tawanya pendek, nyaris batuk. Di dadanya ada sesuatu yang tak selesai, semacam residu dari masa lalu yang terus menuntut pembuktian. Ia pernah punya pacar yang mengajarinya menulis puisi, tapi akhirnya puisi itu dipakai untuk menulis pesan perpisahan. Sejak itu, setiap kali ia menulis, yang keluar bukan kata-kata, tapi napas yang terengah—seperti seseorang yang berlari mengejar bayangannya sendiri.
Warung kopi itu bukan tempat romantis, tapi di situlah percakapan menjadi satu-satunya cara bertahan. Dindingnya penuh mural kata-kata bijak yang kehilangan makna karena terlalu sering diunggah ulang: “Jangan menyerah, meski hidup menyerahimu.”—ditulis di atas cat tembok yang mulai mengelupas. Ada satu stopkontak di sudut yang jadi rebutan; ada satu colokan emosi yang terus dicolok-cabut tanpa pernah benar-benar tersambung. Malam itu, Ciledug seperti versi murah dari Paris: lampunya muram, puisinya basi, dan cinta-cintanya kebanyakan kredit.
Kontong memperhatikan Mimit menulis. Ia penasaran, apa yang ditulisnya. Tapi ia tahu, menanyakan isi tulisan seseorang sama berisikonya dengan menanyakan siapa yang baru saja mereka lupakan. Jadi ia hanya diam. Lalu dari diam itulah sesuatu lahir—semacam listrik kecil, atau mungkin hanya keinginan untuk tidak sendirian. Di luar, motor-motor lewat, membawa paket dan nasib orang lain. Hujan turun, menimpa genteng seng yang sudah berlubang. Di bawahnya, dua manusia kecil memulai sesuatu tanpa tahu bagaimana cara mengakhirinya.
Mimit menutup bukunya. “Kamu tahu, Tong,” katanya pelan, “aku suka sama orang yang bisa menertawakan kesedihannya sendiri.”
Kontong menatapnya, sedikit tersenyum. “Lucu ya, aku justru lebih suka orang yang bisa menyedihkan tawanya sendiri.”
Dan di titik itu, keduanya sama-sama tahu, sesuatu yang aneh sedang dimulai—bukan cinta, mungkin hanya kebersamaan yang diapit oleh kelelahan yang sejenis. Seperti dua kalimat yang belum selesai, tapi saling melengkapi tanda bacanya.
Beberapa minggu kemudian, mereka mulai sering bertemu. Kadang di taman belakang mal yang sudah ditutup tapi tetap ramai; kadang di warung mi ayam yang buka 24 jam karena pemiliknya insomniak. Mimit sering membawa buku—kadang novel murahan, kadang teori feminis yang ia kutip separuhnya. Kontong membawa gitar tapi jarang dimainkan. Mereka berbicara tentang apa saja: musik, trauma, algoritma cinta, harga apartemen yang absurd, dan puisi Chairil yang menurut Mimit terlalu maskulin untuk era kini. Kontong setuju, tapi diam-diam merasa Chairil adalah satu-satunya alasan ia masih menulis. “Kalau Chairil hidup sekarang,” katanya suatu malam, “mungkin dia bakal jadi content creator. Nulis caption pendek tapi tajam. Viral setiap minggu.”
Mimit tertawa. “Dan mungkin mati karena kelelahan deadline, bukan tuberkulosis.”
Malam-malam mereka seperti sketsa: tidak jelas ujungnya, tapi indah kalau dilihat dari jauh. Mereka tidak pernah saling menyatakan perasaan, karena di kota ini, kata cinta terlalu sering dipakai untuk promosi minuman kekinian. Tapi ada sesuatu di antara mereka—semacam understatement of desire, yang tumbuh tanpa izin, liar, dan anehnya, justru terasa jujur. Kadang mereka duduk berdua di halte, menonton truk lewat seperti menonton film jalanan. Kadang Mimit menyandarkan kepala di bahunya, dan dunia mendadak terasa bisa dimaafkan.
Suatu sore, di antara riuh kendaraan dan bau bensin, Mimit bertanya: “Tong, kamu percaya cinta bisa disimpan kayak data di awan?”
Kontong menjawab setelah jeda panjang, “Kalau iya, aku cuma takut lupa password-nya.”
Mimit tersenyum. “Mungkin karena kamu suka lupa backup perasaan.”
Dan di titik itu, keduanya tertawa—tawa kecil yang jujur, seperti napas di antara dua kalimat yang belum rampung. Tapi ada juga getir di baliknya, getir yang halus, getir yang tidak tahu harus ke mana pergi.
Malam makin larut. Mereka berjalan di trotoar yang rusak, berbagi payung kecil yang hanya bisa menampung setengah dari harapan mereka. Lampu-lampu toko mati satu per satu, meninggalkan mereka dalam cahaya yang seperti enggan padam. Di kejauhan, seorang anak kecil tertawa sambil mengejar bola plastik, dan di telinganya, Mimit merasa mendengar sesuatu yang nyaris seperti puisi: bukan karena indah, tapi karena jujur. Ciledug, dalam diamnya yang banjir dan macet, menjadi latar bagi sesuatu yang rapuh namun tulus—cinta yang tidak tahu cara menyebut dirinya sendiri.
Dan di antara semua itu, Kontong sadar, hidup di kota seperti Jakarta adalah latihan panjang dalam menertawakan kebingungan. Setiap lampu merah adalah jeda eksistensial, setiap iklan di jalan adalah puisi yang kehilangan rima. Ia menatap Mimit yang menatap langit, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tidak perlu menulis apa-apa. Karena mungkin, malam itu, kehidupan sedang menulisnya balik. Perlahan. Dengan tangan yang basah dan huruf-huruf yang nyaris pudar.
2.
Hubungan antara Kontong dan Mimit tidak pernah diumumkan, tapi semua orang di lingkar pertemanan mereka sudah tahu—dari cara Mimit menulis status samar di Instagram, dari cara Kontong berhenti menertawakan lelucon orang lain. Mereka bukan pasangan dalam pengertian formal, melainkan dua frekuensi yang kebetulan nyala pada waktu yang sama. Kadang mereka bertemu seminggu penuh, lalu hilang dua minggu tanpa kabar. Kadang Mimit datang ke kos Kontong membawa plastik isi mi instan, dan di antara asap air mendidih dan lampu kamar yang redup, percakapan mereka melayang-layang di antara puisi dan perdebatan kecil soal siapa yang lebih jujur—penulis atau pelaku. Tidak ada kejelasan, tapi di sanalah justru semuanya terasa nyata.
Ciledug di malam hari seperti seseorang yang tidak bisa tidur tapi juga tidak mau benar-benar bangun. Suara motor, klakson, dan lagu-lagu galau dari toko ponsel berbaur jadi latar permanen kehidupan. Dari balkon kos lantai dua, Kontong sering melihat kota itu seperti menatap wajah sendiri di cermin retak—ada bagian yang ia kenali, tapi sisanya samar. Mimit kadang duduk di sampingnya, membawa teh botolan yang sudah tak dingin, lalu berkata sesuatu yang entah serius entah main-main. “Kamu sadar nggak, Tong,” katanya suatu malam, “kita ini kayak dua not yang nggak pernah jadi lagu. Tapi anehnya, kalau dipisah, malah ganggu kuping.”
Kontong menjawab pelan, “Mungkin karena lagu yang bagus itu butuh jeda.”
Mimit menatapnya lama, lalu meneguk tehnya, dan di sana, dalam diam yang manis sekaligus menegangkan, malam menjadi panjang tanpa alasan.
Malam-malam berikutnya, mereka mulai menciptakan kebiasaan aneh: menulis puisi bersama di kertas bekas struk Indomaret, merekam bunyi hujan dengan mikrofon ponsel, dan memberi nama pada setiap nyamuk yang berhasil mereka tepuk. Dunia mereka kecil, tapi penuh ritual ganjil yang membuatnya terasa seperti semesta pribadi. Kadang Mimit membacakan puisinya dengan suara pelan seperti doa, kadang Kontong menirukannya dengan gaya teater kampus. Mereka tahu, tak ada yang abadi dari semua ini, tapi justru karena itu mereka merasa bebas—bebas menjadi sementara, bebas tidak menjanjikan apa-apa.
Suatu malam, mereka menonton film lama di laptop: Before Sunrise. Mimit berkata, “Lucu ya, mereka cuma ngobrol semalam tapi bisa jadi film.” Kontong menjawab, “Mungkin karena ngobrol adalah bentuk paling intim dari kesepian.”
Mimit menatap layar yang menampilkan dua orang asing berjalan di Wina, lalu menatap wajah Kontong di pantulan kaca laptop, dan berkata lirih, “Ciledug bukan Wina.”
Kontong mengangguk. “Tapi kesepian tetap bahasa yang sama di mana pun.”
Dan entah mengapa, di titik itu, jarak antara mereka menguap perlahan—tidak melalui sentuhan, tapi melalui pemahaman yang terlalu dalam untuk dijelaskan. Mereka seperti dua bayangan yang akhirnya berhenti saling mendahului.
Namun hidup, seperti biasa, tidak memberi banyak waktu bagi kebetulan untuk berkembang. Setelah beberapa bulan, Mimit mulai jarang muncul. Alasannya sederhana: kerja, proyek, kehidupan. Kontong tidak menanyakan lebih. Ia hanya menulis lebih banyak, tampil di panggung kecil, membuat penonton tertawa tanpa benar-benar tahu apa yang sedang ia sembunyikan di balik punchline-nya. Dalam setiap tawa, ada jeda kecil—dan di jeda itu, wajah Mimit muncul, seperti kesalahan ejaan yang terlalu indah untuk diperbaiki.
Suatu malam, Mimit datang tanpa kabar. Rambutnya lebih pendek, wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap sama: jernih dan gelisah. Ia duduk di kursi kayu kamar Kontong, lalu berkata, “Aku nggak tahu ya, Tong. Kadang aku pengin berhenti jadi kuat.”
Kontong hanya mendengarkan. Tidak ada jawaban yang pantas untuk kalimat seperti itu. Ia tahu, kekuatan sering kali cuma bentuk lain dari rasa takut. Ia membuatkan teh, menaruhnya di meja, lalu duduk di lantai. Mimit menatapnya lama, lalu berkata, “Kamu tahu nggak, yang paling nyakitin dari hubungan kayak kita ini apa?”
Kontong menggeleng.
“Yang nyakitin bukan karena nggak pasti. Tapi karena setiap kali aku merasa nyaman, aku juga tahu itu sementara.”
Hening jatuh seperti hujan pertama setelah musim panjang. Di luar, suara azan subuh terdengar samar dari masjid yang jauh. Mimit menunduk, menatap uap teh yang mulai hilang. “Mungkin kita ini kayak uap, Tong. Panas sebentar, lalu hilang tanpa bekas.”
Kontong mengangguk pelan. “Atau mungkin kita cuma air yang lupa caranya jadi es.”
Keduanya tertawa, tapi tawa itu berat, seperti upaya terakhir untuk tidak larut.
Beberapa hari setelah itu, Mimit benar-benar menghilang. Tidak ada pesan, tidak ada kabar, hanya satu unggahan di media sosial: foto langit sore dengan caption, “Aku belajar untuk tidak menunggu.” Kontong menatap layar ponselnya lama-lama. Ia ingin marah, tapi yang muncul justru rasa lega aneh—seperti seseorang yang akhirnya berhenti berharap pada lampu mati. Malam-malamnya kembali sunyi. Ia tampil lagi di panggung, menulis lagi, tapi setiap kali membuka mulut, yang keluar bukan lelucon, melainkan gema yang tak selesai.
Beberapa minggu kemudian, saat sedang nongkrong sendirian di warung kopi yang dulu mereka duduki, seorang teman berkata, “Eh, Mimit sekarang kerja di Jakarta Pusat. Katanya nulis buat startup konten.”
Kontong hanya tersenyum. “Baguslah. Akhirnya puisinya dibayar.”
Tapi setelah itu, ia menatap gelas kopinya lama. Ada bayangan dua wajah di permukaannya—ia dan Mimit, bercampur, buram, tapi hangat. Ia sadar, mungkin cinta di kota ini memang tidak pernah punya rumah. Ia lahir di halte, hidup di chat, dan mati di arsip cloud storage. Tapi bahkan dalam bentuk yang fana itu, ia tetap menuntut dikenang.
Malam itu, setelah warung sepi, Kontong menulis sebuah puisi di tisu:
Cinta di kota ini tidak punya pintu.
Hanya jendela yang selalu terbuka,
tapi kita terlalu sibuk menghitung angin.
Ia melipat tisu itu, menyimpannya di dompet, lalu berjalan pulang. Di jalan, ia melihat bayangan dirinya di kaca toko yang sudah tutup. Ia tampak lebih tua dari usianya, tapi juga lebih jujur. Ia sadar, mungkin kehilangan bukan akhir dari apa pun, melainkan cara hidup memastikan kita masih bisa merasa.
Di kamar kosnya, lampu sudah temaram. Ia duduk di kasur tipis, membuka buku catatan lamanya, menemukan catatan Mimit di halaman belakang: “Kita tidak butuh panggung untuk jujur, Tong. Kadang jujur itu justru datang waktu kita kehabisan bahan buat bercanda.”
Ia tersenyum, menutup buku itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tenang—tenang dalam kesedihan yang sederhana, seperti hujan kecil yang jatuh tepat di waktu yang salah, tapi entah kenapa terdengar tepat.
Malam terus berputar di luar sana. Kota tidak pernah tidur. Dan di antara lampu jalan yang redup dan suara hujan yang lembut, ada seorang laki-laki muda bernama Kontong yang masih mencoba menertawakan hidup—bukan karena ia sudah mengerti, tapi karena ia takut berhenti mencoba.
3.
Hari itu langit tampak seperti kertas fotokopi buram—abu-abu muda dengan tepi yang menguning, seolah Tuhan kehabisan tinta. Mimit bangun dengan kepala berat, seolah di dalamnya sedang berlangsung seminar puisi lintas dimensi: antara Freud, Derrida, dan dukun kampung yang mabuk jamu. Ia menatap sekeliling rumah kontrakannya yang kini mulai bocor dari atap dan dinding; temboknya penuh coretan notulen mimpi dan kutipan tak selesai dari Roland Barthes. Di pojok ruangan, Kontong duduk bersila, memandangi layar laptop yang sudah tiga kali restart tanpa sebab. “Mungkin ini tanda,” katanya lirih, “tanda bahwa komputer juga ingin mati dengan gaya puitis.” Mimit tak menjawab. Ia tahu sahabatnya itu sedang memasuki fase “post-ironi”—masa di mana segala hal yang tragis terasa seperti parodi, dan segala yang lucu terasa seperti obituari.
Hari itu mereka seharusnya pergi ke Sosronegoro, kota puisi digital, untuk menghadiri undangan dari Museum Sastra Hibrida. Tapi Kontong mendadak berubah pikiran. Ia ingin berjalan kaki dulu ke alun-alun, “sekadar menghirup debu masa kecil,” katanya. Mimit mengikutinya, meski hatinya berat. Di jalan, mereka berpapasan dengan spanduk bertuliskan Festival Kata Nusantara: Puisi untuk Masa Depan, lengkap dengan foto para kurator yang tersenyum seperti dosen sedang menandatangani nilai A. Kontong berhenti sejenak, menatap spanduk itu lama-lama, lalu berkata pelan, “Lihat, Mit. Mereka masih menulis ‘puisi untuk masa depan’, padahal masa depan sendiri sudah menulis dirinya dalam bahasa notifikasi.” Mimit hanya mengangguk. Ia tahu kalimat itu akan jadi kutipan di status media sosial Kontong nanti, diunggah dengan latar foto hitam putih dan caption “senja literasi”.
Mereka mampir di Warung Mbak Rum, tempat favorit mereka dulu, sebelum warung itu dijadikan kafe minimalis bernama Kopi Tumbuh. Kini meja kayunya dipenuhi laptop, dan setiap pelanggan sibuk mengetik seperti berkompetisi dengan waktu. Mbak Rum sudah pensiun, digantikan oleh anaknya yang kuliah di jurusan DKV dan memanggil dirinya “barista-desainer”. Kontong memesan teh manis—bukan latte, bukan espresso, tapi teh celup murahan yang dihidangkan dengan gelas kaca bening. “Minum teh itu ritual proletar yang suci,” katanya, menatap gelasnya seolah sedang menatap altar kecil perlawanan. Barista muda itu tertawa sopan, tak mengerti. Di pojok ruangan, speaker memutar versi elektronik “Howl” dalam bahasa Indonesia, dibacakan oleh suara sintetis yang memaksakan emosi.
“AKU MELIHAT OTAK TERBAIK GENERASIKU HANCUR KARENA WIFI.”
Kontong terkekeh pelan. “Lihat, Mit. Bahkan Ginsberg pun kini punya akun streaming.”
Mimit menatapnya. “Mungkin memang harus begitu. Dunia sudah terlalu cepat untuk diresapi, jadi semua hal dikonversi jadi konten.”
“Termasuk kematian?”
“Termasuk kematian.”
Mereka meninggalkan kafe itu menjelang sore, ketika langit mulai meneteskan gerimis tipis yang mirip suara tik-tok kereta. Jalanan licin, tapi langkah mereka ringan. Kontong terus bicara tentang rencananya menulis manifesto baru—tentang bagaimana puisi seharusnya tak lagi dibaca, tapi dihidupkan sebagai perilaku, sebagai kegilaan kecil yang jujur. “Aku ingin membuat gerakan baru,” katanya, “Gerakan Puisi Terpeleset.” Mimit tertawa sampai hampir tersedak. “Kau serius?” “Sangat serius,” jawabnya, “karena semua gerakan besar berawal dari kesalahan langkah.”
Mereka menyusuri gang sempit menuju pasar lama. Bau ikan asin dan plastik basah menampar hidung. Di situ, segala sesuatu terasa lebih nyata: suara tukang sayur, bayi menangis, tukang tambal ban bersiul lagu dangdut. Kontong tiba-tiba berhenti di depan seekor kuda delman yang sedang makan rumput di pinggir jalan. Ia mendekat, menatap mata kuda itu dalam-dalam, seolah menemukan sesuatu yang telah lama hilang. “Lihat, Mit,” katanya, “mata kuda ini seperti puisi yang tidak butuh pembaca.” Mimit mulai merasa cemas. Ia tahu kalau Kontong mulai berbicara seperti itu, artinya dunia di kepalanya sedang mulai melengkung. Tapi ia tetap diam, membiarkan sahabatnya terus bicara dengan binatang.
Kemudian terjadi sesuatu yang aneh—atau mungkin sederhana, tapi diberi makna terlalu besar oleh yang hidup. Seekor kuda lain melintas cepat, menarik delman berpenumpang tiga orang turis lokal yang tertawa-tawa sambil merekam dengan ponsel. Kontong, yang masih berdiri di tepi jalan, tak menyadari delman itu sudah terlalu dekat. Mimit berteriak, “Tong!” tapi terlambat. Suara benturan itu seperti metafora yang diciptakan Tuhan dengan humor kelam. Kontong terlempar beberapa meter, jatuh di jalan becek, teh Sosronya tumpah membentuk lingkaran sempurna di aspal.
Mimit berlari mendekat. Orang-orang berkerumun, tapi anehnya suasana terasa sunyi—seperti semua suara ditelan oleh jeda yang sakral. Kontong tergeletak dengan wajah damai, setetes darah di bibirnya, dan di tangannya masih menggenggam kertas berisi satu baris tulisan:
“Puisi sejati adalah yang bisa membuatmu tertabrak sebelum selesai dibaca.”
Ambulans datang terlambat, seperti biasa. Mimit duduk di pinggir jalan, menggigil antara sedih dan tidak percaya. Ia mencoba menertawakan kebodohan itu—karena kalau tidak tertawa, mungkin ia akan gila. “Kau tahu, Tong,” katanya pelan, “kau benar-benar menulis akhir yang absurd.” Seorang polisi lalu lintas mendekat dan bertanya dengan nada administratif, “Ini korban tabrak lari atau tabrak delman, Pak?” Mimit menjawab tanpa menatapnya, “Tabrak puisi.” Polisi itu mengangguk, mencatat sesuatu di buku kecil, lalu pergi dengan wajah bingung.
Malamnya, di kamar kontrakan yang kini terasa terlalu luas, Mimit duduk sendirian menatap layar laptop Kontong. Di sana masih terbuka file bernama Manifesto Puisi Terpeleset.docx. Ia membukanya. Di dalamnya hanya ada satu kalimat yang belum selesai diketik:
“Setiap kata harus berani jatuh.”
Mimit menangis dalam diam. Lalu menyalakan teh Sosro terakhir yang tersisa di kulkas, meminumnya perlahan, dan menulis lanjutan kalimat itu:
“Karena hanya yang jatuh bisa mendengar bumi membaca doa.”
Ia menyimpan file itu, lalu menatap jendela. Di luar, hujan masih turun dengan suara seperti tepuk tangan pelan. Mimit membayangkan di tempat lain—mungkin di langit, mungkin di bar sastrawan absurd yang dijaga malaikat mabuk—Kontong sedang duduk bersama Chairil dan Ginsberg, tertawa menertawakan hidup. “Kau lihat, Mit,” suara Kontong terasa di kepalanya, “akhirnya aku juga punya puisi di jalan raya.”
Keesokan paginya, berita itu tersebar di media sosial: “Penyair lokal tertabrak delman saat hendak menulis manifesto.” Kolom komentar dipenuhi emoji sedih dan ucapan belasungkawa, sebagian lain menuduh kejadian itu settingan promosi. Sebuah akun sastra membuat unggahan estetik dengan caption: “Puisi terakhir yang jatuh di jalan.” Sementara di dunia nyata, delman yang menabraknya kini jadi objek wisata literer: turis datang berfoto, memberi makan kudanya, dan menulis caption puitis tentang kematian yang manis.
Waktu berlalu. Setahun kemudian, di acara peringatan Festival Kata, Mimit membaca puisi baru yang ia tulis untuk mengenang sahabatnya:
“Kau mati tertabrak delman, tapi hidup di setiap tawa absurd yang kami sembunyikan.
Kau mati di jalan, tapi puisimu terus menyeberang.
Karena kata tak pernah benar-benar berhenti, hanya berganti kendaraan.”
Penonton bertepuk tangan, beberapa menangis, beberapa sibuk merekam. Setelah acara selesai, Mimit duduk sendirian di bangku taman, menatap langit senja. Ia menyalakan ponselnya, membuka pesan terakhir dari Kontong: “Kalau aku mati, pastikan puisiku tak masuk buku teks.” Ia tersenyum getir. Dunia memang lucu—kadang terlalu lucu untuk ditertawakan, kadang terlalu pahit untuk ditangisi.
Lalu, seperti adegan akhir film yang tak butuh moral, seekor kuda delman lewat di depan taman itu. Kudanya sama—atau mungkin hanya mirip. Mimit berdiri, menatapnya lama-lama, lalu menunduk memberi hormat. “Jaga dia baik-baik, ya,” bisiknya. Kuda itu meringkik pelan, lalu berjalan menjauh, meninggalkan jejak tapak yang bentuknya seperti tanda baca koma.
Dan entah dari mana, mungkin dari radio rusak di pojok taman, mungkin dari langit yang iseng, terdengar suara samar, pelan tapi jelas:
“Hidup, Mit, tak perlu terlalu masuk akal.
Yang penting, masih bisa menulis sebelum tertabrak.”
Cing Cangkeling adalah penulis asal Ciledug yang menulis seperti orang menambal atap bocor—tergesa, jujur, dan sedikit putus asa. Ia dikenal karena gaya komikal-getirnya yang memadukan filsafat warung kopi dan absurditas kehidupan kelas bawah dengan keanggunan bahasa yang seolah mabuk puisi. Dalam cerpennya, realitas dan mimpi sering bertabrakan tanpa permisi, seperti ojek online dan takdir di perempatan. Ia menulis bukan untuk terkenal, tapi agar dunia tahu bahwa tawa dan kesedihan bisa duduk semeja sambil minum teh Sosro.