69
Ketika Don Ju An menyadari bahwa perempuan di sebelahnya bukan pacarnya, bukan selingkuhannya, dan bahkan bukan siapa-siapa yang ia kenal, ia sudah terlalu telanjang untuk menarik kembali selimut yang kini tampak seperti bendera putih dari kekalahan pribadi.
Dia menatap langit-langit hotel di Menteng itu, lampunya yang berputar perlahan seperti kipas yang tak pernah tahu apakah ia pendingin udara atau hiasan nostalgia. Di bawah, tubuh perempuan itu—mungkin namanya Tika, atau bisa juga Tiwi; dia sungguh tidak ingat—bergerak seperti angka enam yang mencoba menjelaskan dirinya pada angka sembilan.
“Jangan mikir,” kata perempuan itu, suaranya teredam di antara lipatan linen dan kulit.
Don Ju An, yang dari kecil dilatih untuk selalu berpikir, terutama sebelum melakukan hal bodoh, kini malah memikirkan betapa ironisnya saran itu.
Ia menatap cermin di seberang tempat tidur: bayangan mereka terpantul setengah, seperti dua angka yang saling berkejaran namun tak pernah bersentuhan penuh.
“Jangan mikir,” ulang perempuan itu.
Tapi ia tetap berpikir—tentang ibunya yang pagi tadi mengirim pesan WhatsApp bertuliskan, “Jangan lupa Jumat doa keluarga. Jangan bawa perempuan aneh lagi.”
Tentang ayahnya yang masih percaya bahwa Don bekerja di “perusahaan ekspor-impor,” padahal ia menjual lukisan digital erotis lewat NFT yang kini nilainya sudah turun sampai seperti harga pisang goreng dingin di pinggir jalan.
Tentang dirinya sendiri, Don Ju An, nama yang sejak SMA menjadi bahan olok-olok, seolah ia lahir semata untuk menjadi badut bercelana dalam di pesta moral orang lain.
Perempuan itu berhenti, menatapnya, separuh jengkel, separuh bingung.
“Kamu serius banget, sih?”
Dia ingin bilang, Aku lahir serius. Tapi ia malah tertawa kecil, suara yang terdengar seperti seseorang menutup toples kerupuk dengan enggan.
Malam itu berawal dari aplikasi kencan—yang ia buka bukan untuk mencari cinta, melainkan pembenaran bahwa dirinya masih diinginkan dunia. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya (lagi), setelah galeri tempatnya bekerja menutup karena “kurang relevan di era TikTok.”
“Seniman harus adaptif,” kata pemilik galeri itu, seorang perempuan muda yang selalu memakai sepatu besar seperti ingin meninggalkan jejak lebih banyak dari yang semestinya.
Jadi Don pun “adaptif.” Ia memotret dirinya di depan mural bertuliskan Jakarta Kota Kolaborasi, mengenakan kemeja linen putih dan senyum yang ia pinjam dari influencer meditasi di YouTube. Dalam bio-nya ia menulis:
“Pecinta kopi, literasi, dan percakapan absurd.”
Tiga jam kemudian, seseorang bernama @TikaFilosofis mengajaknya bertemu di bar bawah tanah di Sudirman.
Tika bukan seperti foto profilnya—ia lebih nyata, tapi dengan cara yang tidak siap Don hadapi. Ia bicara cepat, seolah mengejar kalimatnya sendiri, dan tertawa dengan nada yang bisa menghidupkan kembali diskotek yang sudah bangkrut.
“Jadi kamu seniman?” tanyanya.
“Dulu,” kata Don. “Sekarang lebih kayak kurator kegagalan pribadi.”
Dia tertawa lagi, keras kali ini. Dan Don tahu, tawa itu akan membawanya ke tempat yang sepi, hangat, dan sementara.
Setelah mereka selesai, Tika menyalakan sebatang rokok, menatap Don lewat kepulan asap yang membentuk angka 6 atau 9—ia tak yakin.
“Kamu kayaknya pusing,” katanya.
“Enggak,” jawab Don, padahal kepalanya terasa seperti diaduk oleh blender eksistensial.
Ia melihat bayangan dirinya di cermin: seorang pria tiga puluh lima tahun, rambut sedikit menipis, tubuh tidak lagi percaya diri di bawah lampu putih, dan wajah yang tampak bingung seperti pelajar disleksia di kelas matematika.
Dari kecil Don memang tak pernah bisa membedakan kiri dan kanan, 6 dan 9, cinta dan nafsu. Ibunya pernah bilang itu “penyakit hati modern,” sesuatu yang tak bisa disembuhkan kecuali dengan doa dan sarapan bergizi.
Tapi di Jakarta, bahkan doa pun butuh verifikasi dua langkah.
Keesokan harinya, ia bangun sendirian. Tika sudah pergi, meninggalkan catatan kecil di meja:
“Terima kasih, Don. Jangan terlalu mikir. Dunia juga enggak.”
Ia membaca kalimat itu berulang-ulang, seolah di sana tersembunyi sandi untuk menata ulang hidupnya. Tapi yang muncul hanya pertanyaan sederhana: siapa yang sebenarnya memperdayai siapa?
Di luar, Jakarta seperti biasa—bising, lembab, dan terlalu penuh dengan hal-hal yang tidak penting tapi mendesak. Ia berjalan ke balkon, menatap gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti ego kolektif bangsa. Di bawah, tukang parkir berteriak, “Mundur dikit, Bos!”
Ia mundur. Secara harfiah dan metaforis.
Di warung kopi dekat kosannya, Don bertemu Seno, teman lamanya dari kampus Seni Rupa IKJ, kini bekerja sebagai desainer label baju yang entah kenapa semua bajunya berwarna krem.
“Kamu kelihatan kayak angka kebalik,” kata Seno sambil menyeruput es kopi susu.
Don mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Ya kayak angka enam pengen jadi sembilan tapi lupa caranya.”
Don tertawa hambar. “Mungkin aku cuma lagi bingung di mana atas dan bawah.”
Seno mengangkat bahu. “Itu masalah banyak orang Jakarta. Kita semua nyari posisi enak, tapi lupa fungsinya apa.”
Keduanya tertawa, tapi ada sesuatu yang pahit di antara mereka—bukan kopi, bukan nostalgia, melainkan rasa tak pasti tentang apakah hidup ini benar-benar bergerak maju atau cuma berputar seperti kipas tua di kamar hotel.
Malamnya, Don mencoba melukis lagi. Ia membuka kanvas besar di ruang sempit kosannya di Tebet, menyalakan lagu-lagu lawas Iwan Fals, dan mulai mencoret.
Yang muncul bukan bentuk, melainkan simetri aneh: dua figur yang saling menelan, saling menjadi satu. 6 dan 9 yang menari di atas cat akrilik, membentuk pusaran yang menolak diberi nama.
Ia berhenti. Mengambil langkah mundur.
Lukisan itu tampak seperti dirinya: ambigu, sedikit vulgar, dan sangat bingung.
Saat itulah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya:
“Kamu masih mikir?”
Ia menatap layar, jantungnya berdetak tak beraturan.
“Siapa ini?” tulisnya.
Tak ada balasan. Hanya titik-titik gelembung abu-abu yang muncul sebentar, lalu menghilang.
Beberapa hari kemudian, Don mendapat undangan dari galeri kecil di Kemang—sebuah pameran bertajuk “Simetri dan Kekacauan.”
Kuratornya, seorang pria muda dengan rambut perak dan blazer oversized, ternyata mengenalnya dari dulu.
“Kamu Don Ju An, kan? Aku pernah lihat karyamu waktu pameran ‘Bentuk yang Tersesat’ di Salihara,” katanya. “Kamu cocok banget jadi salah satu seniman tamu. Kami butuh karya yang… jujur tapi ambigu.”
Don mengangguk, berusaha terlihat paham, padahal di kepalanya ia hanya mendengar satu kata: “cocok.” Itu jarang sekali diucapkan padanya tanpa nada kasihan.
Ia setuju.
Malam pembukaan, galeri penuh orang-orang yang berpakaian seolah siap difoto tapi tak tahu mau bicara apa. Don berdiri di depan lukisannya—yang kini diberi judul “Soixante-Neuf: Jakarta Edition.”
Lukisan itu menggambarkan dua tubuh yang saling menelan dalam pusaran warna abu-abu dan oranye. Dari jauh tampak erotik, tapi dari dekat lebih mirip dua orang yang tersesat di peta kota.
Seseorang berhenti di depannya.
Tika.
Rambutnya kini diikat, matanya dingin tapi suaranya tetap sama: lembut tapi menusuk.
“Kamu beneran pamerin ini?” katanya.
Don tersenyum canggung. “Ya. Ini… tentang kehilangan arah.”
“Lucu ya,” katanya. “Kamu pikir kamu yang kehilangan arah, padahal kamu yang muterin orang lain.”
Don tidak mengerti, tapi juga tidak bertanya. Kadang di Jakarta, kejujuran datang dalam bentuk tuduhan.
Setelah pameran, mereka duduk di teras galeri, ditemani bau wine murah dan lampu neon yang berkelip seperti nyamuk mabuk.
Tika menatapnya lama, lalu berkata, “Kamu tau nggak kenapa orang suka angka 6 dan 9?”
Don menggeleng.
“Karena dua-duanya butuh yang lain buat kelihatan lengkap,” katanya pelan. “Sendiri-sendiri mereka cuma angka yang kebalik.”
Ia tidak menjawab. Hanya menatap jalan raya di depan galeri, tempat motor-motor lewat seperti ide yang terburu-buru.
“Jakarta juga gitu,” lanjut Tika. “Kita semua kebalik, tapi tetep pengen dibilang simetris.”
Lalu ia berdiri, berjalan menjauh tanpa pamit.
Beberapa hari setelah itu, lukisan Don viral di media sosial.
Bukan karena kualitasnya, tapi karena seseorang menulis di kolom komentar:
“Mirip posisi 69 tapi versi gagal.”
Komentar itu dibagikan, diparodikan, dijadikan meme. Dalam waktu tiga hari, Don jadi simbol “seniman ambigu yang tidak tahu arah.” Ia mendapat undangan wawancara di podcast yang hanya mendengar separuh jawabannya, dan tawaran kerja dari brand sandal yang ingin “mendukung ekspresi personal urban.”
Namun di tengah kekacauan itu, pesan lain muncul lagi di ponselnya:
“Kamu udah berhenti mikir belum?”
Kali ini ia tidak menjawab.
Ia hanya menatap cermin kecil di kamarnya, melihat bayangannya yang terbalik, seperti angka yang tidak tahu dirinya 6 atau 9.
Di luar, azan magrib berkumandang, menyapu langit yang keunguan.
Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap ke arah cermin, berharap pantulannya hilang sesaat—dan berhasil.
Dalam kabut itu, untuk pertama kalinya ia merasa ringan.
Mungkin karena ia akhirnya menyerah, atau mungkin karena ia baru mulai paham: beberapa hal memang tidak perlu dibedakan.
Tapi tepat ketika ia hendak mematikan rokoknya, suara notifikasi terdengar lagi.
Nomor yang sama.
Kali ini hanya satu pesan:
“Balik ke hotel Menteng. Sekarang.”
Don menatap layar. Di cermin, asap sudah hilang.
Lampu kamar berkedip, satu kali, dua kali—seolah memberi isyarat.
Ia menatap pintu, lalu bangkit.
Tanpa alas kaki, tanpa arah.
Dan di luar, hujan mulai turun, tipis tapi pasti, membentuk angka di kaca jendela: 6. Atau 9. Ia tak bisa memastikan.