Selasa, 27 Januari 2026 kemarin bertempat di Palm Court, Four Seasons Hotel, Jakarta telah diadakan acara konser dan fashion show Alleira Batik “A Heritage in Bloom” untuk penggalangan dana Yayasan Kanker Anak Indonesia menampilkan komponis dan pianis Ananda Sukarlan.Ananda Sukarlan sekaligus mengumumkan edisi Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, serta memperkenalkan buku partitur baru Ananda Sukarlan, Love Songs & Lullabies menyongsong Valentine’s Day 14 Februari nanti. Juga untuk menyambut Tahun Baru Cina (Imlek) bulan depan, Ananda membuka konser dengan karyanya yang menggabungkan elemen Cina dan Cinta, “Chinese Fantasy” dan Rapsodia Nusantara no. 36. Yang pertama adalah berdasarkan lagu Cina populer Yuè liàng Dài biǎo Wǒ de Xīn, sedangkan Rapsodia Nusantara no. 36 yang unik adalah berdasarkan melodi yang dipopulerkan penyanyi Taiwan Teresa Teng, “Tian Mi Mi”. Ananda memberi pengantar sebelum memainkannya : “Banyak yang tidak tahu, sebetulnya melodi lagu ini adalah lagu rakyat Banten, Dayung Sampan. Tapi Teresa Teng mengadaptasi liriknya menjadi bahasa Cina dan kemudian mempopulerkannya ke seluruh dunia, sehingga dunia mengira bahwa ini lagu Taiwan”.
Ada kategori baru di Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 yaitu Vokal Ensemble, dan kategori lama tapi lebih ditonjolkan, yaitu untuk musikus dengan disabilitas. Untuk itu Ananda memainkan Rapsodia Nusantara no. 39, yang ditulis khusus untuk tangan kiri saja. “Karya ini berdasarkan lagu rakyat dari Nusa Tenggara Timur, Oras Loro Malirin. Walaupun dimainkan oleh tangan kiri saja, tapi bagi yang mendengarkan, ini seperti ditulis untuk dua tangan. Intinya, karya yang ditulis untuk kaum disabilitas tidak boleh berkualitas lebih rendah dan ‘dimaklumi’ oleh pendengar maupun pemain. Karya itu harus sahih sebagai karya artistik”, jelas komponis yang ditulis oleh Sydney Morning Herald sebagai “one of the world’s leading pianists, at the forefront of championing new piano music” ini.
Acara ini dihadiri oleh banyak tokoh seperti istri Menteri Sosial Republik Indonesia Fatma Saifullah Yusuf, desainer Dhanny Dahlan, ketua Yayasan Kanker Anak Indonesia Ruth Susiana Setiabudi, pengusaha Karlina Damiri, CEO Alleira Batik Lisa Mihardja serta pendiri London School of Public Relations, Prita Kemal Gani.Turut berjalan dan mengenakan berbagai desain baru Alleira Batik selain para model profesional adalah Presiden Rotary Club cabang Menteng Nana Lim dan beberapa anggota Rotary Club Menteng serta Ananda Sukarlan sendiri yang telah dilantik sebagai Honorary Member dari Rotary Club.
Acara ini juga didukung oleh sejumlah brand pendukung, di antaranya Jewels of Eden untuk aksesori, Clove untuk koleksi tas, serta 17 Fleur dan Rotary Club International.
Tema “A Heritage in Bloom” merepresentasikan filosofi desain yang memadukan warisan budaya dengan pertumbuhan, pembaruan dan modern femininity. Koleksi ini menegaskan bahwa batik bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus berkembang dan relevan dengan gaya hidup masa kini.
Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2025 lalu diikuti oleh 587 peserta dari semua instrumen dan vokal klasik di 11 kota di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Tahun ini KPN+ menawarkan kesempatan kerjasama dengan mitra-mitra penyelenggara di kota-kota yang belum menyelenggarakannya sebelumnya. “Kami cukup terkejut dengan Lampung dan Pontianak misalnya, tahun 2025. Ternyata pesertanya melebihi ekspektasi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Saya jadi curiga, kelihatannya musik klasik dan pendidikannya lebih eksis bahkan bermutu di berbagai kota yang tadinya saya kira tidak atau sedikit aktivitas pendidikan musiknya. Saya bahagia bisa berkenalan dengan banyak sekolah dan guru musik di berbagai daerah dengan antusiasme yang sangat tinggi”, komentar Ananda yang mengenakan baju Alleira Batik berwarna dasar merah, memainkan grand piano Yamaha di acara ini.
Di repertoire KPN+ 2026 Ananda banyak memasukkan repertoire dengan elemen polifonik.
“Musik polifoni itu hanya ada di musik klasik, dan kemudian diadaptasi di musik pop. Asalnya dari musik rakyat, di Indonesia ada di gamelan Jawa dan Bali. Di musik jazz juga ada, tapi bedanya adalah : polifoni di jazz dan gamelan itu dilakukan secara spontan, sedangkan di musik klasik itu dikalkulasi di atas kertas sehingga bisa jauh lebih kompleks”, kata komponis yang sangat produktif, melahirkan sampai sekarang 44 nomor Rapsodia Nusantara dan lebih dari 500 tembang puitik, yaitu karya-karya vokal berdasarkan puisi-puisi penyair yang berbahasa Inggris, Spanyol dan Indonesia.
“Musik polifonik sejak Johann Sebastian Bach (terutama Inventions, Sinfonias dan fuga The Well-Tempered Clavier) buat saya adalah 50% atau lebih dari pengajaran musik yang serius. Hampir setiap pendidik piano dan kurikulum konservatori menempatkan Bach sebagai intinya. Teknik ini kemudian dikembangkan di karya-karya Paul Hindemith (1895-1963) dalam “Ludus Tonalis” dan Dmitri Shostakovich (1906-1975) dalam 24 Preludios dan Fugas. Saya pun banyak menggunakan dan mengembangkannya di banyak karya saya, juga menggunakan teknik gamelan dan metode saya sendiri”, lanjut penerima gelar kesatriaan “Cavaliere dell’Ordine della Stella d’Italia” dari presiden Sergio Mattarella dan juga penghargaan sipil tertinggi kerajaan Spanyol, “Real Orden de Isabel la Catolica” ini. (ASK)