Oleh Doddi Ahmad Fauji
Tahun 1999, dalam pertemuan Teater ke XI di Yogyakarta, naskah “Bulan dan Kerupuk” dipertunjukan dalam bahasa Indonesia, berhasil mengocak perut penonton. Tahun 2025, naskah ini dipertunjukkan lagi di Bandung dalam bahasa Sunda “Bulan jeung Kurupuk”, yang terasa oleh saya lakon ini menjadi pertunjukan bernuansa tragedi dan humor satir.
Jika dulu saya menonton pertunjukan ini lebih banyak tertawa, benar-benar terhibur, ini kali saya kok jadi sentimentil, tak terasa mengucur air mata. Banjir bandang yang dikisahkan dalam lakon ini, yang menggulung rumah panggung milik pasangan Neng Ipah dan Jalu, langsung mengingatkan pada peristiwa ratusan banjir bandang yang menghantam tanah air, sedari 1999 hingga hujung 2025 ini, di mana lebih dari 1.000 jiwa telah wafat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akibat Bencana Nasional di hujung tahun, yang menimpa hujung Sumatra itu.
Siapapun yang memiliki empati, akan terketuk untuk bergerak membantu para korban dengan caranya masing-masing. Meski tidak sedikit di tengah bencana nasional sepertu di Sumatra, ada ‘oknum-oknum kemanusiaan’ yang justru memanfaatkan memontum untuk melakukan pencitraan, atau malah sekaligus mengambil keuntungan material. Video berisi tokoh Zulkifli Hasan yang dengan senyum cerita datang berakting dengan latar musibah dan bencana, disinyalir adalah contoh dari laku ‘oknum kemanusiaan’ itu. Tak apa, toh kita butuh bukan hanya contoh baik, tapi juga butuh contoh buruk suapaya kita tidak melakukan hal serupa. Tuhan mewartakan kebaikan para Ashabul Kahfi, sekaligus Tuhan juga memaparkan contoh karakter buruk seperti Qorun, Firaun, Abu Lahab, Samiri, dll.
Saya membayangkan, Aisah ibunya Musa, harus membuang anaknya ke sungai, karena menghadapi arogansi kekuasaan yang hendak membunuh semua bayi berjenis kelamin laki-laki. Juga saya teringat berita-berita tentang bayi yang terpaksa dibuang, yang kadang hanya ditaruh dalam kardus, entah dengan motif apapun. Begitulah akhirnya pasangan Neng Ipah dan Jalu yang punya anak bayi kembar empat, yang karena kemiskinan mendera, tak sanggup mengurus dan membesarkan bayinya. Tak ada orang yang mau mengadopsi anak dari gembel, yang bahkan rumah ‘butut’nya telah rubuh ditelan banjir bandang.
Dalam beragam berita, di Tanah Air ini amat sering tragika seperti itu ternyata nyata adanya. Rasa empatik yang dalamlah, yang bisa bisa menekan tombol jiwa manusia yang halus, yang menyadari, bahwa semua orang pada akhirnya akan wafat. Sebelum wafat, mari berbuat baik kepada sesama, juga kepada alam yang karena terus disakiti, alam kemudian memantulkannya dalam bentuk bencana.
Hukum alam itu pasti, karena merupakan sunnatullah. “… barang siapa titik-titik, maka akan titik-titik…” … “Bila titik titik, maka akan titik titik.”
Bila alam dirusak jor-joran, seperti yang terjadi di Pulau Sumatra, Kalimantan, dll. maka sudah pasti, alam akan membalas dengan tiada ampun.
Meskipun yang memerankannya pada siswa-siswi SMKN 10 Bandung yang sedang menjalani KKL, naskah gubahan Yusef Muldiyana yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda oleh Rosyid E Abby ini, yang dipentaskan di Padepokan Seni Mayangsunda, Jl. Peta No 225 Bandung ini, layak menjadi tontonan yang ‘menghibur batin’.
Saya berkeyakinan, pertunjukan tragedi selalu memupuk rasa empati. Makin sering batin dipupuk oleh tragedi, makin rindang rasa empati itu. Dan benar keyakinan Aristoteles, bahwa naskah terbaik adalah yang beraliran tragedi, karena darinya manusia bisa becermin.
Maka oleh karena itu, pertunjukan yang disaksikan oleh pejabat dari Disbudpar Bandung, pada 13 Desember 2025 ini, perlu direkomendasikan kepada Walikota Bandung, untuk dipertontonkan di hadapan para siswa. Saya yakin, bila para siswa memiliki empati yang tinggi, mereka akan saling bantu, dan tidak akan mau digerakkan untuk ikut tawuran.
Prosa tragedi, teater tragedi, perlu banyak ditonton oleh guru dan siswa, oleh dosen dan mahasiswa, supaya muncul insan-insan yang sarat empati, siap membantu sesama, dan siap bekerja keras, cerdas, tuntas, supaya tidak menjadi manusia-manusia tragis seperti yang dipertunjukkan dalam lakon Bulan Jeung Kurupuk oleh Laskar Panggung Bandung.
Bila pemerintah bersedia memfasilitasi pertunjukan seperti ini, itu artinya, pemerintah tahu dan sadar fungsi. Terlebih Laskar Panggung dan Yusef Muldiyana selaku guru spiritualnya, adalah seniman dan budayawan yang patut diapresiasi.
Doddi Ahmad Fauji
Ketua Koperasi Insan Sastra Indonesia (KISI)