Dalam ekosistem penulisan dan riset, narasumber adalah pemegang kunci informasi. Berbeda dengan ASN yang honorariumnya diatur ketat oleh Standar Biaya Masukan (SBM) Kementerian Keuangan, honorarium untuk narasumber non-ASN atau lepas jauh lebih fleksibel—mulai dari sekadar “uang transportasi” hingga angka fantastis yang setara dengan biaya konsultasi korporasi.
Berikut adalah gambaran spektrum honorarium narasumber lepas untuk wawancara tokoh di tahun 2026:
Tingkatan Honorarium Narasumber Non-ASN
1. Kategori Partisipasi Sukarela (Rp5.000 – Rp50.000)
Angka ini biasanya ditemukan dalam riset akademik mahasiswa atau survei lapangan skala kecil.
-
Konteks: Sering disebut sebagai “uang pulsa” atau “uang terima kasih”.
-
Subjek: Masyarakat umum, saksi mata kejadian, atau responden kuesioner.
-
Tujuan: Mengganti waktu yang terbuang untuk menjawab pertanyaan singkat (15–30 menit).
2. Kategori Narasumber Akar Rumput (Rp100.000 – Rp500.000)
Umum digunakan oleh jurnalis lokal atau peneliti organisasi non-profit (NGO) saat mewawancarai tokoh masyarakat lokal.
-
Subjek: Ketua adat, tokoh pemuda, penyintas peristiwa tertentu, atau ahli hobi.
-
Durasi: Wawancara mendalam selama 1–2 jam.
-
Kompensasi: Menutup biaya transportasi, makan siang, dan waktu kerja yang ditinggalkan subjek.
3. Kategori Pakar & Praktisi Profesional (Rp1,5 Juta – Rp5 Juta)
Ini adalah standar untuk penulisan buku biografi komersial atau narasumber ahli untuk artikel media nasional.
-
Subjek: Dosen senior, praktisi bisnis, pengamat politik, atau kurator seni.
-
Nilai: Menurut referensi SBU (Standar Biaya Umum), pakar profesional sering kali dihargai minimal di kisaran Rp1,7 juta per jam atau per sesi wawancara.
-
Alasan: Anda membayar untuk otoritas keilmuan dan analisis mendalam yang mereka berikan.
4. Kategori Tokoh Eksklusif & “C-Level” (Rp10 Juta – Ratusan Juta)
Kategori ini berlaku jika Anda mewawancarai tokoh yang waktu per jamnya memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
-
Subjek: CEO korporasi multinasional, pengusaha top-tier, atau selebritas papan atas.
-
Mekanisme: Seringkali honorarium tidak diberikan secara langsung ke pribadi, melainkan melalui manajemen atau dalam bentuk donasi ke yayasan milik tokoh tersebut.
-
Faktor Penentu: Tingkat eksklusivitas. Jika tokoh tersebut sangat sulit ditemui, biaya yang dikeluarkan bisa mencakup akomodasi mewah untuk tim penulis demi mendapatkan waktu di sela-sela jadwal sibuk sang tokoh.
Faktor yang Menentukan Besaran Honor
-
Kelangkaan Informasi: Semakin sedikit orang yang tahu tentang informasi tersebut, semakin mahal harga “cerita”-nya.
-
Risiko Subjek: Jika wawancara berkaitan dengan topik sensitif atau membahayakan reputasi subjek, kompensasi biasanya mencakup premi risiko.
-
Waktu Persiapan: Narasumber yang harus membongkar arsip pribadi atau menyiapkan data sebelum diwawancara layak mendapatkan honor lebih tinggi.
-
Tujuan Komersial: Jika hasil wawancara digunakan untuk buku yang akan dijual mahal (best-seller), narasumber profesional biasanya meminta tarif yang lebih bersaing.
Sumber Rujukan
-
SBM Tahun 2026 berdasarkan pada PMK No. 32 Tahun 2025 (Standar Biaya Masukan 2026): Menetapkan batas tertinggi honorarium narasumber pakar/profesional di angka Rp1,7 juta per jam sebagai acuan dasar industri.
-
Pedoman Riset Akademik (Berbagai Universitas): Mencantumkan biaya partisipan/responden mulai dari Rp20.000 – Rp100.000.
-
Aliansi Jurnalis Independen (AJI): Terkait etika pemberian uang kepada narasumber (seringkali ditekankan bahwa jurnalis tidak membayar narasumber untuk menjaga independensi, kecuali untuk penggantian biaya teknis seperti transportasi).
-
Survey Meter Indonesia: Data mengenai biaya kompensasi responden dalam survei sosial ekonomi.