Catatan Perjalanan Marlin Dinamikanto
Terlambat ambil gambar. Mestinya berangkat pukul 11 46. Yang jelas mendung sudah menggantang sejak berangkat dari dusun Tanen. Gerimis turun sejak masuk Provinsi Jawa Tengah dan mengganas lebat begitu tiba di Mungkid, tepatnya pertigaan arah Borobudur.
Setelah lampu merah di sebuah warung yang kosong saya kenakan jas hujan. Eh, di kota Magelang tidak hujan. Tapi mendung masih mengintimidasi sehingga, meskipun terlihat aneh seperti astronot yang kesasar, saya tetap kenakan jas hujan. Betul juga. Di jalan alternatif arah Temanggung hujan menikam wajah. Sebelumnya kaca helm sengaja saya biarkan terbuka. Rintiknya yang runcing lumayan sakit menikam kulit wajah
Namun di Kranggan hujan berhenti. Sepanjang kota Temanggung terlihat terang benderang. Begitu tiba di Parakan air bah tumpah dari langit. Paling juga sebentar, pikir saya. Ternyata hujan yang begitu lebat mesti sekitar 50 Km lagi hingga Ngadirejo, Sukorejo hingga Weleri bahkan Kota Tegal. Di Sukorejo saya sempat berteduh sambil isi Pertamax biasa. Yang Turbo tidak ada Di sana banyak warung. Meskipun perut lapar tapi yang ada di pikiran hanya mie ayam.
Ada banyak tukang mie ayam di sepanjang jalan dari Weleri ke Gringsing. Nah, di tempat yang kanan kiri banyak restoran dan warung makan itu saya mampir ke warung bakso dan mie ayam Wonogiri. Ternyata yang jajan hanya saya. Sudah itu datang bapak-bapak, sepertinya tetangga setempat yang mampir ngopi.
Sekitar satu jam saya di sana. Berharap air di langit habis. Ternyata tidak ada habisnya. Maka saya kenakan lagi jas hujan. Sebenarnya di SPBU daerah Pekalongan yang menjual Turbo hujan hanya menyisakan gerimis. Tapi saya enggan melepas jas hujan. Betul juga. Sejak Pemalang hingga tempat saya menginap di kota Tegal hujan deras kembali kumat.
Maunya ingin cepat istirahat. Tapi tidak bisa. Tetap saja saya baru bisa tidur jam satu dini hari. Paginya memang sudah ada niat ganti oli dan memperbaiki rem muka dan belakang. Eh, saya lihat ban depan sudah betul-betul gundul. Pagi itu terpaksa saya relakan uang 700 ribu untuk merawat mas Bege. Sudah pasti pula sebagai ikhtiar untuk lebih mengurangi risiko kecelakaan di jalan.
Saya berangkat dari Tegal hampir jam 12 siang. Terik matahari justru membuat saya was-was. Jangan-jangan dia menyedot lebih banyak lagi air dari lahat dan menumpahkannya dengan cara yang lebih ganas. Ternyata sampai Cirebon hingga Lohbener, Indramayu, aman. Meskipun diselingi gerimis kecil.
Waktu tempuh Tegal hingga Karawang hanya sekitar 3 jam. Selebihnya sudah saya perkirakan, bakalan ada bubaran buruh pabrik selepas dari Karawang hingga Jakarta. Ditambah lagi hujan kembali menteror sejak Karawang Barat hingga ujung Kalimalang di daerah Halim. Waktu tempuh yang diperlukan untuk jarak 72 Km sekitar 4,5 jam.
Yang penting saya selamat sampai tempat tujuan. Ini motoran saya ke Yogya yang ketiga kalinya bersama mas Bege yang cicilannya baru saja lunas di bulan Oktober ini.