AS : Karena saya sangat suka membaca dan ingin sekali menulis puisi, dan belajar banyak tentang analisa puisi, tapi tidak pernah bisa menuliskannya. Menurut banyak penelitian soal otak, region musik dan bahasa itu bersebelahan, dan memang saya bisa beberapa bahasa, tapi kalau sudah disuruh menggabungkan metafora dengan keindahan fonetik, semantik dan sintaksis, saya nyerah deh. Saya kagum dengan para penyair yang bisa mencipta estetika gabungan itu, dan itu membunyikan suara di dalam kepala saya yang merupakan embrio dari musik yang kemudian saya kembangkan.
AS : Dari segi tema, apa saja sebetulnya, walaupun saya tertarik dengan puisi yang mencatat kejadian, dengan harapan baik puisi itu maupun musik yang saya bikin bisa menjadi dokumentasi sejarah. Ini terutama karena kejadian sejarah banyak yang “ditulis ulang”, ter-(atau di-?)hapus bahkan tidak tercatat. Misalnya soal pagar laut, korupsi, pemberontakan rakyat terhadap kezoliman penguasa. Juga dengan beberapa sejarah pribadi, seperti relasi dengan seseorang atau wafatnya seseorang. Saya biasanya kagum dengan metafora, simile dan simbolisme, itu elemen-elemen yang sangat kuat dalam mengembangkannya menjadi musik.
AS : Mulai bulan September kemarin sampai Desember, setiap akhir pekan saya selalu ke luar kota. Itu karena saya bikin Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+). Kata “plus” menandakan bahwa ini bukan hanya untuk piano, tapi juga untuk instrumen lain dan vokal klasik (kategori Tembang Puitik). Sebelum pandemi, memang ada KPN tanpa plus, dan setelah vakum tiga tahun selama pandemi, saya adakan kembali dengan “plus” vokal dan instrumen apapun lainnya. Saya senang bisa menyebarkan virus musik klasik ke berbagai daerah yang tadinya belum terlalu terpapar musik klasik secara intens. Bahkan saya mengharapkan mitra-mitra penyelenggara baru tahun depan, terutama di Kalimantan dan Sulawesi. KPN+ ini sangat menguntungkan mitra-mitra yang sudah ada bukan hanya sewaktu kompetisi, tapi juga sangat menarik minat calon pelajar musik baru. KPN+ juga terbukti sangat efektif menjembatani musik klasik dengan sastra, lewat kategori tembang puitik (vokal klasik).

AS : Saya memilih para juri dengan beberapa kondisi: 1. Mereka harus muda, paling tua dari generasi milenial, sebaiknya dari gen Z yang sudah harus lulus kuliah, bukan les main instrumen saja. Kuliah pun harus “live”, bukan online, karena untuk memainkan instrumen, saya masih tidak percaya bisa online saja kalau sudah taraf profesional. Juga karena kita juga harus menilai instrumen selain piano dan juga vokal klasik, sehingga pengetahuannya harus luas. Kebetulan juga banyak di antara para juri yang saya ajak itu brilian secara akademik, seperti Akina Selena yang lulus Master of Music dengan summa cum laude dari Boston University, beberapa doktor seperti Dr. Edith Widayani (dari Eastman School of Music, Rochester) dan Dr. Kevin Raharjo (dari University of Miami). Nama-nama lain ada Gwynn Elizabeth Sutanto, Elizabeth Michelle Heryawan, Wilson Chu, Vanessa Tunggal dan lainnya yang semuanya tinggal anda google deh. Nama mereka selalu diumumkan jauh sebelum kompetisi, supaya para peserta tahu siapa yang akan menjuri mereka. Mereka juga tidak boleh menilai murid-murid mereka sendiri, jadi lebih objektif. Segitu transparannya kita. Kalau pembaca ingin mengajukan nama-nama yang cocok dengan kriteria di atas untuk mendampingi saya jadi juri tahun depan, silakan ya. Gen Z Indonesia banyak sekali yang kuliah di luar negeri saat ini dan berprestasi.
DAF : Apa kriteria untuk memenangkan kompetisi musik klasik?
AS : Kalau untuk lolos ke babak final saja sih cukup dengan teknik vokal / eksekusi instrumental yang memadai. Tapi untuk menang, apalagi Ananda Sukarlan Award (ASA), saya mencari musikus yang memiliki 3 K : Kreatif, Komunikatif dan Kolaboratif. Kolaboratif itu tidak bisa kelihatan di kompetisi, jadi itu di kemudian hari sebagai salah satu kunci keberhasilan karir. Kesuksesan dalam karir di bidang seni adalah 50% nilai artistik, 50% attitude atau kelakuan, termasuk kerendahan hati dan keinginan untuk terus memperbaiki diri dan belajar.
AS : Tahun lalu ada soprano Ratnaganadi Paramita, bariton Wirawan Cuanda. Ada pemain biola Veeshan Nathaniel Tandino, dan mereka yang lahir dengan spektrum autisme yaitu pianis Michael Anthony Kwok dan Reynard Jeremy Chandra. Tahun ini saya juga sudah mulai melihat beberapa orang yang berbakat istimewa.
November nanti saya konser dengan pianis Ukraina, Dr. Taras Filenko. Nah, dengan Filenko kita juga mengajak beberapa pemenang KPN+ di Surabaya dan Yogyakarta untuk tampil dengan kami di Yogya, 30 November. Tanggal 5 Desember Taras Filenko dan saya konser di Jakarta di gedung pertunjukan yang sangat baru dan keren banget, Deheng House di bilangan Kemang.
AS : Percaya dengan penguasa yang suka pencitraan masuk gorong-gorong. Padahal biasanya saya tidak pernah bisa mempercayai orang yang tidak pernah / tidak suka membaca, dan/atau tidak pernah mendengarkan musik klasik loh. Semoga ini terakhir kali saya percaya dengan orang beginian.
AS : Umbu Landu Paranggi, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, dan yang masih produktif banyak sekali yang saya suka.
AS : Emily Dickinson, Robert Frost, Walt Whitman.
AS : Federico Garcia Lorca dan penyair Ecuador, Jorge Carrera Andrade.
AS : Duh susah nih kalo karya sendiri. Itu kan semua seperti anak kandung, masa pilih kasih sih. Anyway, mungkin Rapsodia Nusantara no. 24 deh, dari Papua. Walaupun demikian, sepertinya ini bukan favorit penonton atau bahkan pianis lain, mungkin karena memang agak out of the box, ya.
AS : Karena tekstur pianistiknya yang membuat saya menemukan harmoni yang baru, dan karena lagu aslinya, “Domidow” dari Papua itu butuh harmoni dan treatment yang unik. Saya sangat kagum dengan kekayaan musik asli Papua, itu beda banget dengan musik di belahan dunia lainnya.
AS : Wah ini lebih susah lagi, jumlahnya sekitar 600 loh! Mungkin saya bisa menyebut beberapa yang saya anggap sangat “original” karena tidak liris atau mendayu-dayu, tapi meledak-ledak karena puisinya melahirkan musik seperti itu. Misalnya “Iras” dari Adimas Immanuel, “Meditasi Batu” dari Pulo Lasman Simanjuntak. Karakter seperti ini tidak ada di art song barat, karena karakter ini lebih terpengaruh oleh musik rock, dan itu memang hasil “eksperimen” saya sendiri.