Episode 1 — Ziarah Dalangjangashoy ke Negeri Para Beatnik
Kabar keberangkatan Dalangjangashoy ke Amerika Serikat menyebar seperti gosip bahwa tukang ojek di Sosronegoro pernah jadi asisten penyair nasional. Tidak ada yang tahu siapa yang membiayai perjalanannya—konon tiket pesawatnya didanai oleh hasil patungan warga, kotak amal masjid, dan sedikit “dana spontan” dari lomba karaoke sastra yang diadakan dadakan.
“Pergilah, Dalangjangashoy,” kata Ketua RW dengan mata berkaca-kaca. “Wariskan pada kami makna metafora yang engkau temukan di negeri kapitalisme itu.”
“Iya, Pak,” jawab Dalangjangashoy, “saya akan membawa pulang diksi yang bisa membuat padi merunduk, dan influencer sastra tunduk.”
Satu minggu kemudian, Dalangjangashoy mendarat di Bandara JFK, New York. Ia mengenakan batik lusuh, membawa tas kain bertuliskan Sosronegoro Maju Dalam Diksi, dan selembar surat rekomendasi dari Dinas Kebudayaan yang hanya berbunyi:
“Yang bersangkutan benar-benar penyair, meskipun kadang tidak kelihatan.”
Begitu keluar dari bandara, Dalangjangashoy langsung merasa seperti puisi Chairil Anwar yang tersesat di tengah iklan parfum raksasa. Angin New York menusuk, tapi semangatnya tetap membara seperti lilin upacara pernikahan yang dipakai ulang untuk acara tahlilan.
Tujuan pertamanya: makam Frank O’Hara, penyair yang katanya menulis puisi seperti ngobrol dengan tembok yang bisa menjawab. Ia tiba di pemakaman itu dengan seikat bunga plastik dari toko dolar. Duduk di atas rumput dingin, ia membaca puisinya sendiri yang berjudul “Metafora di Dalam Koper” sambil menatap batu nisan.
“Wahai Frank,” katanya pelan, “aku datang dari negeri yang jauh, tempat penyair dibayar dengan nasi kotak dan tepuk tangan. Ajarkan aku menulis puisi yang bisa menyalakan lampu-lampu kota tanpa harus bayar listrik.”
Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya suara angin dan seorang petugas taman yang berdeham keras—mungkin menandakan waktu kunjungan sudah habis, atau mungkin terganggu karena Dalangjangashoy menyalakan dupa di atas rumput.
Malamnya, di motel murah dekat Chinatown, ia bermimpi. Frank O’Hara muncul dalam balutan jas putih dan berkata dengan logat yang entah dari mana:
“Menulislah seperti kamu menyiram tanaman yang sudah mati. Tidak untuk menumbuhkannya kembali, tapi agar tetanggamu tahu kamu masih punya harapan.”
Dalangjangashoy terbangun dengan air mata dan catatan baru di buku kecilnya: “Puisi bukan tentang hidup, tapi tentang tidak mati.”
Perhentian berikutnya adalah makam John Ashbery—penyair yang katanya menulis puisi seperti labirin. Untuk ke sana, Dalangjangashoy menumpang bus, menumpang doa, dan menumpang ketidaktahuan.
Di tengah perjalanan, sopir bus bertanya, “You from India?”
“Indonesia,” jawabnya.
“Ah, that’s near Bali!”
“Bali is near poetry,” katanya mantap. Sopir itu mengangguk meski jelas tidak paham.
Sampai di makam Ashbery, Dalangjangashoy membuka termos kopi yang dibawanya dari Sosronegoro. Ia menumpahkan sedikit di tanah sambil berkata,
“John, aku tidak paham puisimu, tapi mungkin itu justru maknanya. Ajarkan aku bagaimana cara membuat kebingungan terdengar elegan.”
Hening. Tapi tiba-tiba, angin meniup halaman buku catatannya, membuka halaman kosong. Di situ tertulis satu kalimat, entah kapan ia tulis:
“Kadang ketidakpahaman adalah bentuk tertinggi dari persetujuan.”
Ia menatapnya lama, lalu menulis di bawahnya:
“Dari John Ashbery kepada Dalangjangashoy, via angin dan jet lag.”
Tujuan terakhir: makam Jack Kerouac, bapak spiritual para pengembara yang menulis puisi sambil mabuk dan mencintai dunia dalam satu napas panjang tanpa titik. Dalangjangashoy sampai di sana dengan sepatu kotor, jaket tipis, dan perasaan campur aduk antara spiritual dan maag. Ia membawa sebotol kopi susu sachet, hadiah dari Daru yang sempat berpesan, “Buat minum kalau kedinginan, tapi jangan campur dengan eksistensialisme.”
Di depan nisan Kerouac, ia berjongkok dan membaca baitnya sendiri:
“Jalan raya panjang seperti kalimat yang tak tahu kapan harus berhenti.
Aku menulis dan menulis, tapi Tuhan tampak sibuk membaca yang lain.”
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara mesin motor tua—entah nyata atau khayalan. Dalangjangashoy menutup matanya, dan dalam benaknya ia melihat tiga sosok: Frank O’Hara dengan setangkai bunga plastik, John Ashbery membawa peta yang terbalik, dan Jack Kerouac menulis di kap mobil dengan sebatang rokok yang menyala di tengah hujan.
Mereka menatapnya dan bersuara serempak seperti paduan suara malaikat yang kurang latihan:
“Tulis tanpa tujuan, Dalangjangashoy. Karena tujuan adalah cara paling cepat untuk kehilangan makna.”
Dalangjangashoy menunduk, mencatat, dan merasakan sesuatu mengalir di tubuhnya—entah inspirasi, entah masuk angin.
Setelah dua minggu ziarah puitik itu, ia kembali ke Indonesia. Di pesawat, ia duduk di antara seorang turis yang memesan bir ketiga dan seorang ibu-ibu yang membawa tas penuh oleh-oleh “Vitamin C Amerika.” Ia membuka bukunya dan membaca catatan terakhir:
“Aku datang mencari kekuatan tiga penyair, tapi yang kutemukan cuma diriku sendiri yang tidak mau diam.”
Sesampainya di Sosronegoro, warga sudah menunggu di bandara kecil dengan spanduk bertuliskan:
SELAMAT DATANG PENYAIR INTERNASIONAL DALANGJANGASHOY – PEMBAWA API DIKSI DARI AMERIKA.
Dalangjangashoy turun dari pesawat dengan wajah antara lelah dan tercerahkan. Ketua RW langsung menyambut, “Bagaimana, Pak? Sudah dapat ilhamnya?”
Dalangjangashoy mengangguk. “Sudah, tapi masih dalam bahasa Inggris. Nanti saya terjemahkan dulu di warung.”
Tiga hari setelahnya, ia menggelar pembacaan puisi di lapangan kecamatan. Warga datang dengan kursi plastik dan harapan besar: mereka ingin mendengar karya adiluhung yang bisa mengubah sejarah kesusastraan Indonesia, melebihi Pram, Chairil, bahkan JKW yang katanya pernah menulis caption Instagram dengan rima.
Dalangjangashoy naik ke panggung sederhana, membawa buku lusuh dan tatapan setengah sadar. Ia membuka dengan suara tenang, hampir mistik:
“Puisi ini lahir dari pertemuan tiga arwah besar di tanah asing. Mereka memberiku kekuatan untuk menulis tanpa rencana, tanpa koma, tanpa alibi.”
Penonton menahan napas. Angin malam menyentuh panggung. Ia mulai membaca puisinya yang berjudul “Tiga Jalan Menuju Sosronegoro.”
“Frank memberiku bunga plastik,
John memberiku peta yang tak bisa dibaca,
Jack memberiku bensin yang tak pernah habis.
Aku pulang membawa semua itu,
tapi lupa di mana menaruhnya.”
Hening. Lalu tawa kecil terdengar. Lalu tepuk tangan. Bukan karena mereka paham, tapi karena mereka merasakan sesuatu yang aneh—campuran bangga, lucu, dan sedih.
Setelah acara, Daru mendekat. “Pak, itu puisinya keren banget. Tapi… maksudnya apa?”
Dalangjangashoy menatapnya lama. “Kalau kamu paham, saya harus berangkat lagi ke Amerika.”
Malamnya, Dalangjangashoy duduk di teras rumahnya, memandangi spanduk yang mulai kusam. Ia membuka buku catatan ziarahnya. Di halaman terakhir, ia menulis:
“Sosronegoro tidak butuh puitika Amerika. Sosronegoro hanya butuh alasan baru untuk percaya pada kata-kata.”
Ia menutup buku itu perlahan, meniup lampu minyak, dan tersenyum kecil. Dalam mimpinya malam itu, tiga penyair datang lagi—Frank, John, dan Jack—mereka duduk di warung kopi Titik Dua, memesan kopi hitam dan gorengan, lalu bertanya dalam bahasa campur-baur:
“So… this Sosronegoro… real place?”
Dalangjangashoy tertawa. “More real than poetry, my friends.”