Episode 2 – Dalangjangashoy dan Diksi yang Hilang di Dalam Negara
Sejak kepulangannya dari Amerika, Dalangjangashoy menjadi semacam legenda lokal di Sosronegoro. Ia tidak lagi sekadar penyair; kini ia “duta spiritual kebahasaan.” Di setiap rapat RT, namanya disebut dengan nada khidmat, seperti doa yang diucapkan dengan sedikit salah ejaan. Ia sering dipanggil tanpa sebab, seperti memanggil roh hujan di musim kemarau: sekadar agar hidup terasa punya literasi.
Suatu pagi yang sedikit terlalu tenang untuk seorang penyair, datanglah surat beramplop merah muda dari Kementerian Kebudayaan. Isinya resmi, tapi nada kalimatnya seperti ditulis oleh robot yang baru belajar metafora. “Dengan ini, pemerintah Republik mengundang Saudara Dalangjangashoy untuk bergabung sebagai penyusun puisi kenegaraan bertema Harmoni dalam Aksara Bangsa.” Dalangjangashoy membaca surat itu sambil mengunyah singkong rebus. “Ini jebakan,” katanya pada Daru, yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi seolah sedang menulis puisi di tanah. “Jebakan kenapa, Pak?” tanya Daru polos. “Kalau mereka minta saya menulis puisi, pasti mereka mau puisi yang bisa disetujui semua orang. Padahal puisi yang disetujui semua orang biasanya cuma spanduk peringatan HUT RI,” jawabnya sambil menatap langit yang tampak ikut setuju.
Meski demikian, ia tetap berangkat. Di benaknya, panggilan itu mungkin bagian dari takdir puitiknya—mungkin setelah O’Hara, Ashbery, dan Kerouac, kini giliran birokrat yang harus ditemuinya. Ia membawa koper, buku catatan, dan secarik kertas bertuliskan: Jangan lupa menjadi aneh. Bus malam membawanya ke Jakarta, kota yang selalu seperti draft puisi yang terlalu sering direvisi oleh arsitek ekonomi. Ia duduk di kursi belakang, memandangi lampu-lampu jalan yang berkelip seperti tanda baca yang kelelahan.
Kementerian Kebudayaan ternyata lebih besar dari bayangannya: gedungnya tinggi, dingin, dan seluruh lobi dipenuhi lukisan wajah para tokoh sastra yang tampak tidak senang difoto. Seorang staf muda menyambutnya dengan senyum kaku, seperti sedang menahan diksi. “Bapak Dalangjangashoy ya? Wah, kami semua penggemar karya Bapak yang… apa itu… Tiga Jalan Menuju Sosronegoro. Dalam banget! Kami baca setengahnya.” Dalangjangashoy mengangguk bijak. “Setengah puisi sudah cukup untuk separuh pencerahan,” ujarnya tenang, seperti orang yang tahu bahwa separuh lain dari dunia selalu terselip di margin notulen rapat.
Ruang rapat yang ditujunya terlalu dingin untuk percakapan hangat. Tiga pejabat duduk berderet, jas abu-abu, laptop terbuka, wajah mereka seperti puisi-puisi realistis yang kehilangan enjambemen. Di belakang mereka terbentang spanduk besar bertuliskan: Rapat Persiapan Puisi Kenegaraan: Dari Rasa Menuju Bangsa. Seorang pejabat membuka suara, “Kami ingin puisi yang bisa dibacakan Presiden pada Hari Bahasa. Tapi harus mengandung nilai-nilai kebangsaan, modernitas, dan optimisme ekonomi.” Pejabat lain menambahkan dengan antusias canggung: “Kalau bisa, rima-nya kayak lagu anak-anak, tapi kesannya dalam.” Dalangjangashoy menatap mereka, senyumnya seperti catatan kaki yang hilang dari makalah ilmiah. “Baik,” katanya, “saya akan coba menulis puisi yang dalam tapi dangkal, berat tapi ringan, nasionalis tapi tidak terlalu yakin.” Ketiga pejabat itu mengangguk, merasa mendengar kalimat yang sulit tapi meyakinkan. Salah satu dari mereka bahkan menulis di notulen: penyair profesional—sudah terlatih dalam paradoks.
Malamnya, di kamar hotel yang dinginnya seperti ruang penyimpanan ikan, Dalangjangashoy menatap laptop pinjaman yang lampunya berkedip seperti Morse Code dari dunia roh. Ia menulis: “Negaraku adalah kata yang lupa arti dirinya sendiri.” Lalu berhenti. Di luar, suara kendaraan terdengar seperti puisi Ashbery yang diterjemahkan secara tergesa. Ia berpikir: mungkin puisi kenegaraan memang tidak perlu indah—cukup bisa diucapkan tanpa membuat siapa pun tersinggung. Ia menyeruput kopi sachet yang pahitnya lebih jujur daripada pidato pejabat, lalu memutuskan untuk tidur dengan setengah keyakinan bahwa dirinya baru saja melakukan pengkhianatan kecil kepada absurditas.
Keesokan harinya, ia menyerahkan draft puisinya ke panitia. Judulnya: Negara yang Berpikir dengan Rima.
“Bangsa adalah meja tempat kita menulis,
Pena adalah harapan yang kadang kehabisan tinta.
Tapi jangan cemas,
selama masih ada stempel,
setiap kalimat akan punya arti.”
Salah satu pejabat membaca pelan, lalu berkata dengan nada konsultatif, “Bagus… tapi bisa nggak ‘stempel’-nya diganti jadi ‘cinta’? Lebih lembut.” Dalangjangashoy mengangguk tanpa ragu, lalu mengganti kata itu. Tapi di dalam dirinya, ia menulis ulang versi asli—di kepala, di tempat kata-kata masih punya rahasia yang tak bisa diarsipkan. Ia tahu, puisi yang disetujui negara harus terlebih dulu kehilangan sedikit keberaniannya.
Hari upacara pun tiba. Lapangan besar, spanduk, kamera televisi, para siswa berbaris, dan presiden dengan senyum monumental. Dalangjangashoy duduk di barisan tamu kehormatan, memakai batik terbaiknya, menatap panggung seperti menatap altar tempat bahasa disucikan dengan pengeditan. Presiden membuka naskah dan membaca dengan nada yang nyaris khidmat:
“Bangsa adalah meja tempat kita menulis,
Pena adalah harapan yang kadang kehabisan tinta.
Tapi jangan cemas,
selama masih ada cinta,
setiap kalimat akan punya arti.”
Tepuk tangan bergema. Musik mars mengalun. Balon-balon merah putih terbang ke langit seperti metafora yang kehilangan arah. Dalangjangashoy tersenyum kecil. Ia bahagia, tapi juga getir—seolah puisinya baru saja dimandikan formalin agar tahan lama di arsip negara.
Di warung Sosronegoro, Daru menonton siaran itu lewat televisi kecil. “Pak Dalangjangashoy sukses! Puisinya dibaca Presiden!” katanya girang. Pemilik warung menjawab santai, “Bagus sih, tapi kenapa rasanya kayak slogan di botol minuman energi ya?” Semua tertawa, lalu melanjutkan makan gorengan. Televisi terus menyala, menyiarkan wajah Dalangjangashoy yang terlihat tenang di layar, seolah ia sendiri belum yakin siapa yang sebenarnya sedang dirayakan: puisinya, presidennya, atau kebisuan yang berhasil disamarkan jadi kebanggaan.
Malam itu, di kamar hotel yang sama, Dalangjangashoy membuka jendela dan menatap Jakarta yang berkilau seperti papan iklan raksasa. Ia menulis satu kalimat terakhir di buku catatannya: Kadang puisi terbesar adalah diam yang tidak berhasil disensor. Ia mematikan lampu, lalu tertidur dalam mimpi yang absurd. Di sana, Frank O’Hara sedang membeli gorengan di warung Sosronegoro, John Ashbery menulis puisi di buku absen pegawai negeri, dan Jack Kerouac mengebut di atas becak sambil berteriak, “On the road to meaninglessness!” Dalangjangashoy tertawa sampai air matanya keluar. Lalu ia bangun dengan rasa lega yang aneh—seolah seluruh absurditas itu memang sudah seharusnya terjadi, karena hanya di negeri seperti ini, bahkan kata “cinta” bisa lahir dari sensor yang niatnya tulus.