Episode 3 – Dalangjangashoy dan Madrasah Diksi
Dalangjangashoy akhirnya pulang ke Sosronegoro dengan wajah yang tak bisa ditafsirkan sepenuhnya: antara bangga, lelah, dan sedikit bingung mengapa puisinya kini menjadi ringtone resmi di ponsel para pegawai negeri. Pesawat kecil yang ditumpanginya mendarat dengan suara yang menyerupai helaan napas panjang seorang penyair yang baru saja menandatangani kontrak birokratis. Di luar bandara, warga telah menunggu dengan spanduk baru bertuliskan: SELAMAT DATANG PENYAIR KENEGARAAN DALANGJANGASHOY — PEMBAWA CINTA DALAM STEMPEL BANGSA. Ia menatap tulisan itu lama, mungkin antara terharu dan tergelak. “Wah, mereka masih ingat,” katanya pelan. Daru, yang menjemputnya dengan motor butut penuh debu, menimpali, “Ingat, Pak. Bahkan ibu-ibu arisan sekarang pakai potongan puisi Bapak di status WhatsApp.” Dalangjangashoy mengangguk, menyerahkan koper ke bagasi motor, lalu tersenyum, “Baguslah. Puisi akhirnya berfungsi sosial—meski cuma untuk caption.”
Namun, setelah euforia sambutan itu memudar, yang tersisa hanya keheningan yang agak kikuk. Di rumahnya yang sederhana, di antara buku-buku yang telah menguning dan kursi bambu yang bunyinya seperti pantun kesakitan, Dalangjangashoy duduk termenung. Ia mencoba menulis sesuatu, tapi kata-kata enggan keluar, seolah menolak bekerja setelah tahu bahwa kini mereka memiliki fungsi kenegaraan. “Kalau puisi bisa dipakai untuk kampanye,” gumamnya, “apa masih puisi?” Seekor kucing melintas di depan jendela, menatapnya sejenak, lalu pergi tanpa komentar—seperti pembaca yang memahami makna tapi menolak terlibat emosi.
Hari-harinya berjalan seperti paragraf tanpa kata kerja. Pagi datang, siang lewat, malam berganti, semuanya tanpa narasi yang jelas. Hingga suatu sore, beberapa anak muda datang ke rumahnya. Mereka membawa buku catatan, wajah penuh semangat, dan kopi sachet yang aromanya menandakan kemiskinan yang gigih. “Pak, kami ingin belajar menulis puisi dari Bapak,” kata salah satu dari mereka, seorang pemuda kurus dengan kemeja kotak-kotak yang tampak tidak pernah disetrika oleh kehidupan. Dalangjangashoy menatap mereka lama, lalu tertawa kecil. “Kalian yakin mau belajar dari saya? Saya bahkan tidak yakin puisi masih bisa mengubah apa pun, kecuali suasana hati penulisnya.” Anak-anak muda itu tersenyum, tak gentar. “Justru itu, Pak. Kami mau menulis puisi yang tidak mengubah apa pun, tapi bikin hidup terasa sedikit lebih bisa ditertawakan.”
Dan begitulah, tanpa keputusan resmi atau anggaran pemerintah, lahirlah Madrasah Diksi Sosronegoro. Madrasah itu tidak memiliki bangunan tetap. Kadang mereka belajar di teras rumah Dalangjangashoy, kadang di warung kopi, kadang di pinggir sungai sambil menebak ikan mana yang paling metaforis. Tidak ada kurikulum, tidak ada ujian, tidak ada gelar. Satu-satunya peraturan yang berlaku adalah: jangan menulis kalau kamu sedang terlalu yakin. Di minggu pertama, Dalangjangashoy memberi tugas sederhana: “Tulis puisi tentang sesuatu yang tidak penting.” Hasilnya di luar dugaan. Satu murid menulis puisi berjudul Ode untuk Sendok Plastik. Yang lain menulis Elegi untuk Baterai Remote TV yang Hilang. Seorang perempuan muda menulis Aku dan Bayangan Kucing Tetangga. Dalangjangashoy membaca semuanya dengan tawa kecil yang hangat. “Bagus,” katanya, “kalian sudah mulai memahami absurditas eksistensi.”
Pada minggu kedua, ia memperkenalkan pelajaran baru: “Puisi bukan untuk dimengerti. Puisi untuk ditemani.” Kalimat itu mereka catat dengan sungguh-sungguh, seolah itu pasal baru dalam undang-undang kehidupan yang lebih manusiawi. Sore itu mereka menulis bersama sambil minum kopi. Kadang hujan turun, kadang listrik padam, tapi tak seorang pun peduli. Di tengah aroma gorengan dan rokok, lahir puisi-puisi kecil yang tidak akan pernah memenangkan lomba apa pun, tapi sanggup membuat sore menjadi sedikit lebih masuk akal. “Pak, kenapa nggak bikin lomba puisi antarwarga aja?” tanya Daru suatu kali, mungkin terinspirasi oleh hasrat administratif yang tersisa dari pertemuannya dengan birokrasi. Dalangjangashoy menggeleng lembut. “Kalau ada lomba, nanti yang kalah merasa tidak puitis. Padahal, di dunia ini, yang tidak puitis justru lebih jujur.” Murid-muridnya tertawa, lalu menulis puisi tentang kejujuran yang tidak punya rima.
Kabar tentang Madrasah Diksi menyebar cepat. Wartawan datang, pejabat kebudayaan datang, bahkan influencer literasi datang membawa tripod dan mikrofon. Salah satu vlog mereka berjudul dengan huruf kapital penuh semangat: DALANGJANGASHOY: GURU PUISI ANTI-KOMPETISI DARI KOTA SOSRONEGORO. Saat diwawancarai, Dalangjangashoy hanya menjawab dengan nada datar dan tenang, “Saya tidak mengajar menulis puisi. Saya hanya mengingatkan orang-orang bahwa hidup ini terlalu aneh untuk dijelaskan tanpa metafora.” Kalimat itu menjadi potongan viral di media sosial. Ironisnya, keesokan harinya, warung kopi tempat mereka biasa berkumpul ditutup untuk sementara dengan alasan “renovasi kebijakan tata ruang.”
Dalangjangashoy tidak marah. Ia hanya tersenyum dan mengajak murid-muridnya pindah ke kebun pisang di belakang rumah. “Kita tetap bisa menulis di sini,” katanya. “Pohon-pohon ini pendengar yang sabar, dan tidak pernah minta tanda tangan.” Sore-sore berikutnya, mereka menulis di antara daun pisang yang berdesir seperti tepuk tangan alam. Suatu hari, seorang murid bertanya, “Pak, apa Bapak masih ingin menulis puisi yang mengubah dunia?” Dalangjangashoy menatap jauh, senyumnya samar. “Tidak. Sekarang saya cuma ingin menulis puisi yang membuat dunia berhenti sebentar.” Tak ada yang menanggapi. Hening menggantung di udara. Lalu angin datang membawa aroma kopi, suara jangkrik, dan sejenis ketenangan yang tak memerlukan penjelasan.
Malam itu, Dalangjangashoy berjalan sendiri di jalan kecil Sosronegoro. Lampu jalan berkelip-kelip seperti tanda baca yang bingung di mana harus berhenti. Ia menatap langit dan membayangkan Frank O’Hara, John Ashbery, dan Jack Kerouac sedang tersenyum dari langit sana—mungkin mereka pun sedang menulis, atau sekadar menertawakan absurditas seorang penyair lokal yang kini menanam diksi di antara pohon pisang. Ia berhenti di bawah satu lampu yang redup, mengeluarkan buku kecil dari sakunya, dan menulis catatan terakhir malam itu: Mungkin puisi terbaik bukan yang dibaca di panggung, tapi yang diselipkan di kantong celana dan lupa dicuci.