NARKISOS
cerpen marlin dinamikanto
Narkisos tinggal di sarang langit yang teduh. Kembang berkawin kumbang beranak madu. Tapi itu dulu. Ketika rimba hijau perkasa. Jutaan kuda gesit jelajahi benua. Kapal layar berloncatan ikuti arah angin arungi samudera. Hingga armada hantu berdatangan mencari rempah.
Telaga bening begitu jernih. Narkisos yang jatuh cinta kepada bayangnya sendiri mati tenggelam di sana. Itu kata orang-orang Yunani. Bukan kata Yuk Nani yang dagang gudeg di Kranggan.
“Aku kah Narkisos itu?” tanya burung emprit kepada petir yang menyambar gedung-gedung mangkrak, juga rel-rel kereta cepat yang ditinggal pengelolanya kabur entah ke mana.
.”Bukan. Kamu bukan Narkisos. Kamu hanya tikus yang mati di gudang beras Pasar Cipinang,” jawab satu-satunya pohon jambu yang tersisa di belantara kemiskinan.
Ini bukan cerita negeri nenek moyang. Ini kisah para demagog yang rajin meracuni pikiran. Selalu bangga iklim tropis yang ramah. Terlena sumberdaya alam yang melimpah. Padahal itu hanya kaca spion kejayaan masa lalu.
Narkisos begitu bangga dengan dirinya. Padahal kalau dipikir-pikir, kata Euis Darliah, apa-apanya dong. Sambil berjoget di acara Aneka Ria Safari yang ngetop di TVRI dekade 1980-an
Koes Plus juga tidak salah saat menyanyikan lagu kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Gambaran sederhana tentang negeri yang kaya raya. Tak mungkin ada kelaparan seperti di Ethiopia. Ini negeri Pancasila. Ada UUD ’45. Bhinneka tunggal Ika motonya.
Tapi siapa sesungguhnya pemilik kolam susu itu?. Siapa pula pemilik tongkat kayu dan batu jadi tanaman? Siapa yang berhak minum dan mandi susu. Siapa pula yang berhak panen atas beragam tanaman, batu-batu, mineral, minyak bumi, gas dan rupa-rupa anugerah dari langit yang ternyata hanya menyenangkan sedikit orang?
“Alah, mas emprit banyak gaya. Ngangkring aja ngutang tapi ngomongnya ndakik-ndakik,” celetuk Jepri tukang angkringan. Tapi burung emprit yang mengaku Narkisos di akun media sosialnya tetap nyerocos – membicarakan sesuatu yang asal-usulnya berasal dari katanya-katanya
Memang, Narkisos itu laksana burung emprit yang hinggap di gundukan lahat. Pusara para zombi yang keluar dari kuburnya. Berjoget riang. Nyanyikan lagu apanya-apanya dong.
Di ujung cakrawala petir kerjapkan mata, memberikan pertanda kepada para zombie yang berjoget di luar pakem penguasa langit dengan sentilan-sentilan tenane ya embuh.
“Hus tidak boleh begitu. Nanti saya sambar gosong tubuhmu,” gertak petir mulai muncratkan lidah api di angkasa.
“Tuan Petir. Ampuni kami. Kami hanya berjuang agar tidak menjadi tikus yang mati di gudang beras,” gumam Narkisos yang tubuhnya langsung mengecil seperti burung parkit. Terbang lagi mencari tempat yang satu frekuensi dengan apa yang dirasakannya. Tapi petir yang berkalung emblim penguasa langit selalu mengikutinya.
Pada akhirnya semua makhluk jadi zombi. Tidak ada lagi yang tegas berteriak. Kami makhluk berdaulat. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tidak lagi hidup menghamba, terlebih kepada makhluk yang lebih kuat dan kaya raya.
“Ndasmu,” sanggah Sang Petir, “mau otakmu yang kecil itu aku sambar?”
“Ya, jangan to Tuan Petir. Ampuun. Jangan sambar otak saya yang kecil ini ”
“Makanya nurut, ikuti perintah. Tidak boleh nyanyi lagi apanya-apanya dong. Apalagi menyindir penguasa langit dengan jogetan tenane ya embuh.”
“Siap komandan,” jawab Narkisos yang lesu karena dilarang berpikir.
Kalau begini caranya, gumam Narkisos, niscaya aku akan seperti tikus mati di gudang beras. Tidak bisa. Ini harus dilawan. Tapi bagaimana caranya? Petir terlalu perkasa. Matanya jauh lebih tajam dari elang. Begitu juga telinganya sudah menempel ke dinding-dinding para zombie yang semakin banyak berkeliaran di jalan-jalan.
Maka Narkisos memilih tinggal sendiri di atap rumah yang gelisah. Jendela buram memotret zombie-zombie yang berjoget mencari makan. Dengan lagu yang sama. Seperti burung-burung yang membuat sarang selalu begitu sejak jaman nenek moyang.
Masih beruntung bagi zombie yang laksana kerbau masih ada sawah untuk dibajak. Bukan bajak laut One Piece yang benderanya saja sangat ditakuti penguasa langit. Oh, tidak. Narkisos yang tinggal di atap rumah tidak ada keberanian mengibarkan bendera One Peace. Petir di ujung cakrawala pasti melihat dan langsung menyambarnya.
Di atap rumah Narkisos hidup merdeka. Berdaulat atas dirinya. Dia tak mau dijerat sarang laba-laba. Dibodoh-bodohi oleh kepalsuan masa lalu yang gelap gulita. Dibuai ilusi batang singkong yang bisa menciptakan rembulan. Tapi faktanya semakin banyak zombie berkeliaran.
Tidak ada. Setelah sekolah-sekolah hanya diciptakan untuk menjadi kerbau yang menggarap sawah-sawah Homo Sapiens yang lebih kaya dengan areal sangat terbatas. Maka Homo Sapiens yang miskin berlomba ketaatan agar tenaganya dibeli dengan harga ala kadarnya. Otak yang sudah kecil semakin mengecil, dari batuan kerikil menjadi butiran pasir.
“Di sekolah kami tidak diajarkan membuka pikiran sehingga punya kuku dan taring tajam menjebol kebuntuan ” keluh Narkisos dari balik jendela buram.
Mendadak Narkisos yang tidak mau lagi mati tenggelam oleh kejayaan masa lalu mendengar lolong serigala dari kejauhan sana. Tutup segala pintu dan jendela. Bersama gelisah yang dibiarkan membusuk dalam pikiran. Tak bisa apa-apa selain berdoa matahari segera menyala.
Pegangsaan, 27 Oktober 2025