CERPEN Eddy Pramduane
Aku masih mengingat sore itu, udara selepas hujan membawa aroma tanah basah yang menyatu dengan bau karpet masjid yang lembab. Seusai salat Maghrib, aku melangkah keluar sambil menunduk, menenangkan pikiran yang sedari tadi diliputi resah entah karena apa. Di teras masjid, orang-orang berdesakan mengambil sandal dan sepatu masing-masing. Aku pun menunduk mencari sepatuku—sepasang sepatu warna coklat tua yang kubeli dari hasil lembur, kebanggaan kecil seorang ayah sederhana.
Namun, sepasang sepatu itu tak tampak di tempat biasa. Aku mencari ke kiri, ke kanan, menyingkap sandal-sandal yang berserakan. Lalu seseorang berseru pelan, “Itu, Pak… di selokan depan.”
Aku menoleh.
Di sana, sepatuku terapung di air hitam pekat, terombang-ambing bersama dedaunan busuk. Basah. Bau. Hancur sudah marwahku di hadapan para jamaah. Seseorang di antara mereka menahan tawa kecil, mungkin menganggapnya sepele. Tapi bagiku, itu penghinaan.
Aku mendekat, menarik sepatu itu dengan ranting, menatapnya lama—dan entah kenapa yang terlintas justru wajah anakku, Arif. Anak semata wayangku yang akhir-akhir ini sering membantah, jarang di rumah, pulang larut malam dengan wajah letih dan tatapan asing.
Bisik-bisik di sekitar masjid menambah bara di dadaku.
“Ada yang lihat anak muda tadi sore nongkrong di sini, sepertinya anaknya Pak Eddy,” kata seseorang dengan nada ragu.
Deg.
Hatiku bergemuruh.
Mengapa namanya disebut-sebut? Apa mungkin dia…?
Aku pulang dengan langkah telanjang, membawa sepatu yang basah itu dalam kantong plastik. Setiap langkah seperti menggores bara di dada. Sampai di rumah, istriku bertanya lirih, “Kenapa, Bang?”
Aku hanya menjawab, “Nanti saja.”
Aku tak ingin amarahku meledak di hadapannya.
Malam itu, aku duduk di ruang tamu. Sepatu itu kuletakkan di depan cermin besar yang menempel di dinding, hadiah pernikahan dua puluh tahun lalu. Aku menatap pantulan diriku sendiri—lelaki paruh baya dengan mata merah, rambut beruban di sisi pelipis, dan tangan bergetar menahan amarah.
“Kalau benar anakku yang melakukan ini… apa yang tersisa dari harga diriku sebagai ayah?” bisikku pada bayangan dalam cermin.
Bayangan itu menatap balik, dingin dan buram.
“Jangan biarkan amarahmu menguasai,” seakan-akan ia berbicara. Tapi semakin aku menatapnya, semakin wajahku sendiri tampak asing.
Jam menunjuk pukul sebelas malam. Arif belum juga pulang.
Pikiranku berputar—mencari alasan, mencari pembenaran, mencari cara agar ia mengaku. Dalam hati, suara lain membisik:
“Bunuh saja. Anak durhaka.”
Aku menutup telinga.
“Pergi kau, Iblis! Astaghfirullah… Astaghfirullah…”
Kucoba berzikir, menenangkan hati yang nyaris runtuh. Lalu tanpa sadar aku tertidur di sofa dengan lampu masih menyala.
—
Ketika aku terbangun, dini hari telah tiba. Rumah sunyi.
Tiba-tiba—tok… tok… tok…
Tiga ketukan pelan di pintu depan.
Aku bangkit perlahan. “Arif?” panggilku setengah mengantuk. Tak ada jawaban.
Kutarik gagang pintu, dan di ambang sana…
bukan anakku.
Hanya sepasang sepatu basah, sepatuku sendiri, berdiri tegak di depan pintu seperti seseorang yang menunggu izin masuk. Bau busuknya semakin kuat, seperti lumpur yang tak pernah kering.
Aku mundur satu langkah. Hening. Udara terasa berat.
Dan entah kenapa, dari arah ruang tamu, cermin besar itu bergetar halus.
Kudekati perlahan. Dalam pantulan kaca, aku melihat bayangan anakku berdiri di belakangku—pucat, diam, menatap tanpa ekspresi. Aku berbalik spontan, tapi tak ada siapa pun.
Hanya cermin dan sepasang sepatu yang kini tergeletak di lantai, meneteskan air ke ubin dingin.
Dari kejauhan, suara azan Subuh berkumandang.
Kupaksakan langkah menuju kamar mandi, menggigil tapi pasrah.
Mungkin ini peringatan.
Atau mungkin, entah sejak sore tadi, aku sebenarnya sedang bercermin pada diriku sendiri—ayah yang terlalu sibuk menuntut hormat, tapi lupa menanam kasih.
Kutinggalkan sepatu itu di depan rumah.
Kukencangkan langkah menuju Masjid, tanpa alas kaki.
Dalam hati aku berbisik,
“Ya Allah, jika Engkau ingin menyampaikan sesuatu, aku siap mendengarnya… bahkan lewat sepasang sepatu.”
Dan di jalan yang masih basah oleh embun, aku merasa langkahku lebih ringan dari sebelumnya—meski tanpa alas kaki, dan meski bayangan di cermin tadi masih menatapku entah dari mana.
Depok,oktober 2025