Ratap Sunyi di Balik Janji Resmi
Ratap mengendap di dada para pengabdi
Ada luka yang tak tercatat dalam administrasi
Tiap tetes peluh berubah jadi angka tanpa arti
Apakah janji negara hanya berhenti di naskah pidato?
Pengabdian kami terlalu sunyi untuk mereka yang bising kuasa
Sunyi ini bukan kesepian tapi jerit yang tak dilirik sistem
Ujung pena kami menulis bukan demi pujian
Namun untuk cahaya di mata anak-anak pelosok negeri
Yang kami harap bukan upah besar hanya pengakuan yang tulus
Ikrar kami tak diucap di podium tapi dalam doa panjang yang senyap
Di setiap papan tulis reyot kami sisipkan harapan bangsa
Iman kami tetap utuh meski keadilan seperti bayang-bayang
Balik kebijakan yang digembar-gemborkan
Ada ribuan nasib tertahan oleh birokrasi
Lalu mereka berkata “Kami sedang memperjuangkan”
Ironinya: kami pun sudah memperjuangkan lebih dulu dan lebih lama
Karena Tuhan tahu siapa yang benar-benar membangun negeri ini
Janji hanya indah jika ditepati
Apakah mereka lupa bahwa sumpah jabatan disaksikan langit?
Nama kami mungkin tak masuk daftar
Jangan khawatir doa kami sudah lebih dulu terdaftar di langit
Inilah ratap sunyi yang Tuhan pun dengar meski kalian memilih lupa
Resmi tak selalu adil
Etika sering kalah oleh prosedur
Seandainya kalian mau mendengar jerit dari balik ruang kelas
Mungkin kalian tahu
Ikrar guru honorer bukanlah basa-basi melainkan janji sejati
Malang_Akrostik 06062025
*
CATATAN REDAKSIONAL OLEH IRZI RISFANDI
Administrasi Air Mata: Ratap Sunyi yang Tak Bisa Didata
Tak ada bunyi lonceng sekolah yang berbunyi di awal puisi ini—hanya desis peluh, gesekan kapur di papan tulis reyot, dan suara hati yang menolak dijadikan angka statistik. “Ratap Sunyi di Balik Janji Resmi” membuka dirinya bukan dengan lirisisme yang lembut, tapi dengan seruan yang pelan-pelan menggigit. Dari bait pertama, Efi Setiawati menegaskan posisi: ini bukan puisi curhat, melainkan pernyataan sikap yang disamarkan dalam sajak. Ia menulis dengan kemarahan yang terdidik—seorang guru yang tak sedang berteriak di jalan, melainkan berbisik di ruang kelas kepada murid-muridnya, “Beginilah rasanya mengabdi, Nak, di negeri yang gemar berpidato.” Tak ada air mata yang tumpah, tapi setiap larik terasa seperti jeda napas panjang dari seseorang yang sudah terlalu sering menunggu keadilan yang dijanjikan tapi tak kunjung hadir.
Yang membuat puisi ini menarik adalah keberaniannya menyeimbangkan lirisisme dan kritik sosial. Efi tidak memaku puisinya pada slogan; ia menulis dengan kesadaran estetik yang matang. “Ratap mengendap di dada para pengabdi” — kalimat pembuka yang sekaligus pukulan pembuka. Imaji “peluh yang berubah jadi angka tanpa arti” terasa pahit sekaligus elegan, seperti metafora birokrasi yang disulap jadi puisi. Namun, jika ingin memberi sedikit catatan, puisi ini bisa lebih kuat jika memberi ruang bagi paradoks yang lebih subtil—misalnya, memperlihatkan kontradiksi batin guru antara dedikasi dan kelelahan, bukan hanya antara janji dan realita. Kadang, jerit sunyi justru lebih menggetarkan jika disampaikan dengan lirih, bukan dengan seluruh megafon kemarahan yang jujur tapi berisiko kehilangan keintiman.
Dan sungguh, siapa yang bisa memisahkan Efi dari kata “pendidikan”? Ia bukan hanya guru, tapi juga penulis, kepala perpustakaan, pemenang penghargaan literasi, bahkan CEO komunitas penulis—sebuah kombinasi yang membuat Superman tampak underachiever. Lahir di Malang, kota yang sejuk tapi penuh semangat, Efi memancarkan dedikasi yang seolah tak punya jam istirahat: 53 buku antologi, dua buku tunggal, dan karier panjang di dunia pendidikan. Maka ketika ia menulis “Janji hanya indah jika ditepati”, itu bukan sekadar kalimat protes, tapi testimoni moral dari seseorang yang benar-benar menepati janjinya sendiri. Ratap Sunyi di Balik Janji Resmi bukan hanya puisi—ia semacam surat cinta getir untuk negeri, ditulis dengan kapur putih di papan yang hampir rapuh, tapi tetap terbaca jelas oleh langit yang, seperti kata Efi, sudah lebih dulu mencatat namanya.
2025
*
Gerimis Menangis di Balik Tinta Pengabdian
Gerimis jatuh bukan dari langit semata
Engkau tahu itu tangis yang disisipkan dari doa tanpa suara
Ruang kelas menyimpan nyanyian luka
Ia melantun dalam kapur retak dan papan yang mengeluh
Mereka berkata Kau pahlawan
Iya pahlawan tanpa tanda tangan dan tunjangan
Setiap langkahmu menyulam ilmu di lorong sunyi peradaban
Menangis tak harus basah mata
Engkau cukup menatap upah yang tak sebanding cita
Nasibmu digantung di antara rapat-rapat megah
Alasan demi alasan berbaris rapi dalam berita
Negeri ini pandai bicara tapi kerap lupa rasa
Gerak bibir mereka seperti bait puisi sumbang
Ikrar yang dilangitkan tak pernah benar-benar mendarat
Suaramu hilang bukan karena lemah tapi karena sengaja dibungkam
Di balik senyummu ada nyeri yang sabar
Ibarat pelita yang terus menyala meski sumbu tinggal arang
Berpuluh tahun kau mengajar di batas harap
Ada bangku tapi tak ada tempat duduk untuk namamu di meja kebijakan
Langit pun sering lebih jujur dari pejabat
Ia mencatat setiap sujudmu yang lirih
Karena hanya Tuhan yang tidak buta oleh statistik
Tinta pengabdianmu tidak hitam di atas putih
Ia merah oleh darah keikhlasan yang tak sempat dicetak
Nama-mu absen di daftar pegawai tetap
Tapi tak pernah absen di hati murid-muridmu yang tumbuh
Alangkah mulia jadi lilin meski akhirnya menjadi abu
Pengabdianmu adalah kitab yang disusun sunyi
Engkau menulis dengan waktu bukan kata
Negeri ini harusnya belajar dari matamu yang tak pernah berpaling
Gaji tak setimpal tapi imanmu lebih dalam dari palu anggaran
Apakah mereka sadar? Atau terlalu sibuk merapikan rencana kosong?
Biar Tuhan yang mencatat dan membalas
Di sisi-Nya air matamu bukanlah sia-sia
Ialah saksi bahwa engkau mengabdi tanpa perlu tepuk tangan
Aku menuliskan ini mewakili semua tangis yang ditahan
Negeri boleh lupa tapi langit tak pernah lalai mencintai para pengabdi yang diam
Malang_Akrostik 06062025
*
Gerimis Tak Sempat Menjadi Hujan
Gerimis turun seperti rindu yang dibatalkan
Engkau harapan hanya singgah lalu diam
Rakyat menengadah tapi langit tak kunjung bicara
Ikrar pemimpin berubah jadi asap samar lenyap mengambang
Mereka berjanji pada mikrofon melupakan suara-suara yang lirih
Ialah kami yang berdiri di antara papan reyot dan perut kosong
Sejuta peluh ditukar dengan seribu alasan
Tak semua peluh menjadi roti
Ada pengabdian yang diukur dengan abai
Keikhlasan kami disapu dalam draf rencana lima tahunan
Sempat kami percaya bahwa tinta negara bisa menyerap air mata
Enam belas tahun mengabdi hanya dianggap statistik
Mata kami belajar memaafkan tapi dada kami penuh nyeri
Politikmu licin seperti lantai yang disengaja basah
Apa yang kau janjikan tak lebih dari bayangan langit sore
Tuhanku hanya pada-Mu tangisan ini memiliki arah
Menjadi hujan adalah impian
Engkau tahu bukan deras yang kami inginkan
Namun cukup diakui bahwa kami telah menjadi awan
Jalan ini panjang dan sunyi
Apakah negeri ini paham arti setia?
Di balik gerimis kami menuliskan nama kami di langit
Ialah doa yang enggan reda walau tak pernah disambut
Hanya Engkau Tuhan yang menyentuh luka kami tanpa syarat
UntukMu pengabdian ini mengalir bukan untuk pangkat
Jika gerimis tak sempat menjadi hujan
Aku yakin Engkau akan menjadikannya pelangi yang abadi
Negeri boleh lupa tapi langit Engkau tak pernah ingkar
Malang_Akrostik 06062025
*
BIONARASI PENULIS
Efi Setiawati, S.Pd.
Dilahirkan di kota sejuk nan inspiratif, Malang, pada 25 Januari 1974, Efi Setiawati tumbuh dengan kecintaan yang mendalam terhadap bahasa dan sastra. Sejak muda, ia menunjukkan ketekunan luar biasa yang membawanya meraih beasiswa hingga menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Malang (UNISMA), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dedikasinya di dunia pendidikan tidak sekadar membimbing siswa di ruang kelas. Ia telah mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Indonesia di berbagai lembaga pendidikan seperti Madrasah Aliyah Bina Umat Malang di mana ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Madrasah hingga tahun 2016 serta di MTs. Hamid Rusydi Malang. Kini, ia menapaki babak baru sebagai guru sekaligus Kepala Perpustakaan di SMK Negeri 1 Malang.
Di balik sosok pendidik yang bersahaja, tersembunyi jiwa sastrawan yang tajam dan produktif. Efi adalah pemenang berbagai lomba cerpen dan puisi tingkat nasional, serta peraih Penulis Award 2021 dan 2024. Ia telah menorehkan namanya sebagai kontributor aktif di berbagai media, seperti Malang Pos, Radar Malang, serta E-Buletin Majalah Geulis. Ia juga dikenal sebagai desain grafis dan editor andal di Komunitas Writer Pro Community.
Tak berhenti sampai di situ, Efi adalah Founder & CEO Komunitas Inkspire Writers Community Malang, sebuah ruang kreatif yang ia dirikan untuk menumbuhkan semangat menulis di kalangan generasi muda. Hingga kini, ia telah melahirkan lebih dari 53 buku antologi cerpen dan puisi, serta 2 buku tunggal, menjadi bukti nyata bahwa kata-kata mampu menjelma karya yang abadi.
Bagi Efi Setiawati, menulis bukan sekadar hobi, melainkan napas hidup. Dalam setiap bait puisi dan setiap alur cerita, ia menanamkan nilai, rasa, dan makna—menginspirasi banyak jiwa untuk terus bermimpi dan mengekspresikan diri lewat kata. *