3 PUISI MARIZA

Petrichor

Hujan turun, menari di bumi,
Menyentuh lembut dedaunan yang menanti,
Membawa berkah pada yang bersyukur,
Sawah, kebun, terbangun dari tidur.

Setiap tetesnya, seperti nyawa baru,
Menghidupkan tanah yang sempat layu,
Mencegah kekeringan yang hampir menjelma,
Dalam derasnya, bumi kembali bernyawa.

Dan bagi mereka, pecinta hujan,
Musim ini bukan sekadar curahan,
Tetapi momen yang dinanti dalam hening,
Aroma tanah, sejuk dan menenangkan.

Petrichor, bau yang khas dan agung,
Mengisi udara, di antara rintik yang bergantung,
Di bulan September yang basah dan lebat,
Bumi dan langit berpelukan erat.

Dengan hujan, datanglah harapan,
Menjawab dahaga, memeluk alam,
Bersama petrichor yang meresap perlahan,
Hujan adalah berkah dalam keheningan.

~Jakarta, 24 September 2024

Petrichor adalah aroma khas yang muncul di udara saat hujan turun membasahi tanah yang kering, terutama setelah periode kering yang panjang. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, “petra” (batu) dan “ichor” (cairan yang mengalir di pembuluh darah dewa). Aroma ini merupakan hasil kombinasi dari pelepasan minyak tanaman yang terperangkap di tanah selama kemarau dan senyawa kimia seperti geosmin oleh bakteri tanah, yang kemudian tersebar di udara oleh tetesan hujan.

*

CATATAN REDAKSIONAL OLEH IRZI RISFANDI

Ketika Mariza Menyapa Hujan: Aroma Tanah, Aroma Keteguhan

Begitu aroma tanah basah itu menyeruak dari halaman belakang rumah, kita langsung tahu: Mariza sedang jatuh cinta—bukan pada seseorang, tapi pada hujan. Puisi “Petrichor” ini tidak membuka diri dengan metafora yang kompleks atau simbolisme yang ruwet; sebaliknya, ia menari lembut di antara rintik air, seperti seseorang yang menunggu kesempatan untuk menulis lagi setelah lama menahan diri. Dan sungguh, pembaca segera tahu bahwa yang menulis bukan remaja yang baru belajar menulis puisi di kafe hujan-hujanan, melainkan seorang perempuan berusia 63 tahun yang telah menapaki 47 gunung dan menatap 47 horizon yang berbeda. Ada kedewasaan yang menenangkan di setiap larik—tenang tapi tidak membosankan, lembut tapi tidak lemah.

Namun tentu, sebagaimana hujan yang terlalu lama bisa membuat cucian bau apek, puisi ini juga kadang terjebak dalam kesejukan yang repetitif. Mariza begitu mencintai hujan hingga lupa bahwa dalam sajak, hujan juga bisa menjadi tokoh antagonis—pembasuh, tapi juga penghapus. Imaji yang digunakan masih bersandar pada klise klasik: sawah yang terbangun dari tidur, tanah yang kembali bernyawa, aroma yang menenangkan. Semua indah, tetapi seperti mendengar lagu favorit yang diputar terlalu sering di radio: nyaman, tapi kehilangan kejutan. Barangkali, sedikit keberanian untuk memasukkan pengalaman pribadi—seperti hujan di puncak gunung atau deras yang menelan jejak pendaki—akan membuat Petrichor lebih “hidup” dalam cara yang tak terduga.

Meski begitu, sulit tidak tersenyum membaca puisi ini ketika kita tahu siapa Mariza. Seorang nenek yang menulis lebih dari seratus buku antologi sambil terus mendaki gunung di atas 3.000 meter? Itu bukan sekadar produktif—itu superhero literasi dengan sepatu trekking. Maka Petrichor terasa seperti catatan kecil di sela napasnya yang panjang menapaki lereng, sebuah ode sederhana untuk bumi yang ia cintai, ditulis dengan hati yang masih basah oleh rasa ingin tahu. Kritik apa pun terhadap puisinya harus dibingkai dengan rasa kagum: karena di usia ketika banyak orang memilih beristirahat, Mariza masih berlari mengejar hujan, dan—syukurlah—masih sempat menuliskannya untuk kita.

2025

*

Hujan dalam Doa Berasap

Hujan datang sebagai perempuan tua
berkain kabut, menuruni lereng Gamalama
sambil membawa kendi doa
dari langit Maluku,
dituangnya perlahan ke tubuh pulau
seperti menyiram arwah
yang belum sempat pulang.

Ternate pun mendesah,
dan tanahnya menguarkan bau purba:
rempah-rempah yang tumbuh dari luka sejarah, cengkeh dan pala
yang menggigil di batangnya
seolah mengingat tangan-tangan asing
dulu memetiknya tanpa izin jiwa.

Air menetes dari daun seperti mantra,
membangkitkan jin-jin penjaga hutan pala,
mereka menari dalam aroma hangat,
menggoda dewa-dewa tidur
di dasar laut Halmahera.

Inilah saat langit dan bumi berdamai,
Gamalama membuka pori-porinya
membiarkan ingatan
tentang api dan kematian
menguap bersama embun harum
dari dupa di altar dunia.

Di jalanan basah dan retak,
banjir kecil membawa sampah,
air mata nenek moyang,
yang ditukar dengan lada dan peluru,
mereka menanam cinta di bumi
kapal-kapal besi memanennya…

Rempah itu kini menyusup ke udara,
bukan hanya sebagai wangi,
tetapi sebagai bukti:
bahwa Ternate puisi terbakar,
dan Gamalama lidah apinya.

Jika kau cukup sunyi,
kau akan dengar:
di balik setiap rintik,
ada bisikan yang berkata:
“Kami masih di sini.
Dalam harum hujan,
dalam nyala tanah.”

Gamalama, 30 Juni 2025
*

Tilang & Sumpah Serapah

Di sudut jalan, di tengah debu,
seorang bapak pulang merumput, lesu.
Motor bututnya tak lagi menyala,
sudah diangkut ke kantor negara.

Bukan karena maling, bukan kriminal,
hanya tak sanggup bayar pajak yang brutal.
Padahal untuk makan, masih harus utang,
di warung tetangga, di kantong harapan.

Di kantor itu, motor tergeletak,
tak bermanfaat, tak dipakai berjejak.
Sementara si bapak, memanggul beban,
bukan hanya rumput, tapi juga kesedihan.

Sumpah istrinya mengalun lirih,
doa atau laknat, siapa yang peduli?
Anaknya kecil, lapar menunggu,
syukur tetangga masih berbagi, tak jemu.
Oh, tuan berseragam, tidakkah kau sadar?
Di atas tangisan ada karma yang mengakar.

Tak semua yang dizalimi ikhlas mendoakan,
bisa jadi hidupmu kelak penuh kehancuran.
Negeri ini bukan kandang setan,
tapi hukum kerap dipermainkan.
Tilang, pungli, perampasan jalanan,
di mana nurani? Di mana keadilan?

Jakarta, 19 Maret 2025
*

Mariza 63 tahun, istri, ibu dari 3 anak perempuan dan menantunya, nenek 4 orang cucu perempuan, relawan sosial Lions Clubs, yang masih aktif mendaki gunung di atas 3000 m dpl, penyuka perjalanan di alam bebas, yang sudah menulis seratus lebih buku antologi selama masa pandemi Agustus 2020 hingga Oktober 2025. Memiliki 1 buku solo tentang pendakian dan 1 buku cerpen tentang petualangan alam bebas. Melakukan pendakian 32 gunung selama pandemi covid-19, beberapa gunung sama dengan jalur berbeda. Total sampai Oktober 2025, Alhamdulillah 47 gunung.

Author: