3 PUISI SAID KUSUMA

SURGA NGEBLUR MBAH MARKIDUD

pagi-pagi, Mbah Markidud berbagi maklumat kepada umat warung kopi.

 

maklumat I

wahai perokok pasif, kalian sejatinya lebih sial dari perokok masif. tak ikut menikmati, tapi malah beresiko duluan mati. mending berpartisipasi.

jangan sok filosofis menolak! wong, si Thomas Hobbes itu, andai lahir di Kudus, pasti akan tetap menebarkan konsepnya Plautus; homo homini lupus kemukus

: manusia itu serigala yang mengasapi manusia lainnya.

 

maklumat II

rokok itu ikon egaliter perekonomian, setia jadi lintingan kretek berjubah kertas yang menjaga bibir kapitalis, ataupun sosialis, agar tak hampa menganga kala menganalisa kemiskinan dan kegagalan negara.

kalau tak percaya, tanyakan kepada Castro ihwal nikmatnya bercerita sambil bercerutu. betapa mengulas kedaulatan tembakau adalah jauh lebih bermutu, daripada menuliskan derita dengan pena gerutu.

 

maklumat III

penyair pun jangan malu-malu. Chairil saja berpura-pura tak punya paru-paru. dijejalinya dada dengan bait-bait nikotin. jika ketiadaan imajinasi mencegahmu berpuisi, maka kosong rongga mulut mesti kauisi. meski kiamat sajak menjelang, tetaplah selamanya menjalang!

 

maklumat IV

kepadamu yang pancasilais dan agamis, jadilah umat adil sebelum mengadili. Bersikaplah sesuai sila kemanusiaan yang adil dan berasap. bukankah sebagian kyai pun merokok?

akankah kelak kita dihisab sebanyak jumlah batang sigaret yang kita hisap?

jika perokok dipersilakan masuk surga manapun, kupilih yang pemandangan di dalamnya paling ngeblur, ngebul oleh kepulan asap. kalau kalian masuk berkunjung, tolong tutup pintu. mari kita udud!

 

–Jakarta 19102025

 

***

 

CATATAN REDAKSIONAL OLEH IRZI RISFANDI 

Surga Ngebul, Nalar Ngebul: Ketika Filsafat Bertemu Puntung Rokok Mbah Markidud

Asap sudah lebih dulu sampai sebelum puisinya selesai dibaca. Bukan asap neraka, tentu saja, tapi asap warung kopi—campuran antara tembakau, tawa, dan sedikit teori filsafat yang dicerocoskan oleh Mbah Markidud sejak pukul enam pagi. “Surga Ngeblur Mbah Markidud” bukan puisi yang datang dengan jubah sakral atau diksi surgawi; ini lebih seperti khutbah subuh versi satir, di mana logika ngelantur dan hikmah ngawur saling berdampingan di atas meja kayu yang masih lengket sisa gula. Said Kusuma membuka puisinya seperti stand-up comedian yang baru saja membaca buku Thomas Hobbes di sela-sela isapan rokok, lalu berpikir: “Ah, kalau Hobbes lahir di Kudus, pasti dia juga bakal jadi dukun kretek.”

Said tampak bersenang-senang dengan absurditas. Setiap maklumat di puisinya terasa seperti stiker filosofi warung kopi—antara satire dan kebenaran. Dalam Maklumat I, ia menegaskan bahwa perokok pasif lebih sial dari perokok aktif. Argumen itu begitu ngaco, sampai akhirnya terasa masuk akal—karena ya, bukankah banyak kebenaran di negeri ini justru terdengar seperti lelucon yang diterima terlalu serius? Said menertawakan logika moral yang berlebihan, seolah berkata: “Daripada pura-pura sehat tapi stres, mending udud sekalian.” Humor seperti ini tidak destruktif; ia membebaskan, mengajak pembaca menertawakan absurditas hidup yang dibungkus dengan label moralitas dan etika kesehatan.

Di Maklumat II, Siad—eh, maaf, Said—menarik kita ke level ekonomi-politik rokok. Ia menyebutnya “ikon egaliter perekonomian,” dan dengan berani menempatkan kretek sebagai penyelamat bibir kapitalis maupun sosialis. Di tangan penyair lain, klaim ini mungkin jadi propaganda murahan; di tangan Said, ia berubah jadi satire yang cerdas dan beraroma kopi robusta. Ia tidak sedang memuliakan rokok, tapi memperolok sistem ekonomi yang memuja simbol kesederhanaan sambil terus menghisap rakyatnya perlahan-lahan. Ironi itu terasa lembut tapi menggigit—seperti puntung rokok yang masih menyala di ujung asbak.

Namun, Maklumat III adalah pesta utama: Said menyentil para penyair. Chairil Anwar dijadikan contoh “penyair berpura-pura tak punya paru-paru”—sebuah kalimat yang begitu kocak sekaligus menampar lembut. Di sini, Said bermain di wilayah meta-literer: ia menertawakan penyair yang pura-pura murni, seolah puisi hanya lahir dari kesunyian, bukan dari rongga mulut yang dipenuhi nikotin dan keresahan. Di balik tawa, ada kritik serius terhadap pose kepenyairan yang sering terlalu idealis, lupa bahwa inspirasi kadang datang bersama debu dan asap, bukan wahyu. Kritiknya komikal, tapi menohok—seperti teguran dari Mbah Markidud yang sudah terlalu tua untuk berpura-pura suci.

Dan akhirnya, Maklumat IV menutup dengan gaya khas Said: religius tapi nyeleneh, seolah surga itu tempat nongkrong favorit, lengkap dengan asbak di setiap meja. Ia bertanya dengan polos tapi nakal, “Akankah kelak kita dihisab sebanyak jumlah batang sigaret yang kita hisap?” Pertanyaan itu, kalau dibaca di khutbah Jumat, mungkin bisa bikin jemaah batuk serempak. Tapi di puisi ini, justru muncul rasa empati dan kebebasan yang santai. Said tidak sedang menghujat agama; ia sedang menggoda keimanan agar sedikit lebih santai, lebih berasap, dan mungkin, lebih manusiawi. Surga versi Mbah Markidud bukan taman steril beraroma kasturi, tapi ruang tamu yang “ngeblur” karena Tuhan sedang ikut ngopi dan ngobrol santai soal eksistensi.

Tentu, di balik kejenakaan itu, ada kritik yang patut disampaikan—komikal, tapi tulus. Kadang, Said terlalu menikmati permainan logika absurdnya hingga kita kehilangan arah emosi. Puisi ini lebih terasa seperti orasi humor ketimbang perjalanan batin; jika ditambah sedikit momen sunyi, satu tarikan napas reflektif di tengah tawa, mungkin ia akan lebih seimbang. Tapi ya, siapa bisa menuntut kesunyian dari Mbah Markidud? Orang ini lahir untuk bersuara keras bahkan di tengah hujan rintik-rintik eksistensi.

Latar belakang Said Kusuma sendiri memberi konteks mengapa puisinya terasa seperti pesta lintas komunitas. Ia bukan hanya penyair, tapi juga praktisi seni, anggota dari berbagai ruang kreatif seperti Competer Indonesia, HUMA, dan Kelas Puisi Bekasi. Dua akun Instagram-nya saja sudah cukup menggambarkan kepribadiannya: satu bernuansa estetika geometris, satu lagi penuh refleksi sosial dan satir. Maka tak heran, “Surga Ngeblur Mbah Markidud” terasa seperti hasil kawin silang antara humor seniman jalanan dan perenungan seorang sastrawan serius. Said menulis seperti orang yang sudah berdamai dengan absurditas dunia—dan memilih menertawakannya sambil mengisi asbak.

Puisi ini bukan hanya tentang rokok atau surga, tapi tentang kebebasan berpikir di negeri yang terlalu sering menimbang dosa dengan kalkulator moral. Said Kusuma mengajak kita ngopi bersama, bukan untuk mengkhotbahi, melainkan untuk mengingatkan: kadang, cara paling jujur untuk memahami hidup adalah dengan menertawakannya sedikit—sambil menepuk pundak, menyalakan sebatang kretek, dan berkata, “Santai, bro. Surga juga butuh asap buat menandai keberadaan kita.”

***

PENYAIR YANG BELUM BAYAR KOPI

 

konon, bagi pakde

secangkir kopi adalah dermaga

dari biduk-biduk puisi

sebelum berangkat mengarungi samudra ide

 

dengan logam sendok mungil

dibelahnya lautan pekat itu

macam Nabi Musa

sebelum pusaran tercipta;

tsunami kafein

 

lima ribu

goyang gadis kelasi penyaji

 

sebentar, kutulis judul dahulu

pakde bertahan jelang badai

 

puisi nyaris kandas di terumbu karang

tinggalkan perairan dangkal sekarang!

 

pakde bergeming di roda kemudi

alih-alih memindahkan perahu

lebih mudah meninggikan permukaan air

 

gadis kelasi menyeduh kembali

dikerucutkannya bibir

puisi pakde berlayar abadi

 

–Jakarta 19102025

***

VETERAN ELEGIA

mbah kakung hampir tiba di suatu masa

kemerdekaan dirayakan tanpa

kehadiran seorangpun pejuangnya

 

ingin diwariskannya kepada anak cucu

; jari-jari penekan picu senjata api

bukan jari pengirim ujaran kebencian

 

juga ketelitian menanam ranjau

bukan menanam hoax yang siap meledak

saat terinjak

 

pun roda-roda yang menggilas penjajah

alih-alih melindas kurir online

 

ketika perang tak lagi menempa

kembali penjajahan menimpa

 

mbah kakung telah tiba di suatu masa

kemerdekaan enggan dirayakan

oleh seorang pun pejuangnya

sudahkah mereka merdeka?

 

***

 

BIODATA:

Said Kusuma, seorang pecinta sekaligus praktisi seni. Dapat dijumpai karya-karyanya di beberapa media online, juga di akun instagram @said_serigalla dan @gelometris. Bergabung di Competer Indonesia, AIS, Kelas Puisi Bekasi, HUMA & Ruang Kata.

Author: