3 PUISI SENO JOKO SUYONO

Di perbatasan

Tak ada serdadu Creon yang sampai memburumu kemari
Ini bukan rimba dekat Thebes
Oedipus, di sini masih banyak jalan setapak yang akan membawamu
Keluar dari kutukan Delphi

Penyair berambut panjang dan berlurik itu telah membuat hutan jadi-jadian
Bagi pengusiranmu
Sebuah hutan dengan mambang-mambang yang
Lebih gaib daripada rama-rama hutan Colonus

Pohon-pohon beringin bekas tempat seorang pangeran
mendapat pencerahan
Masih dicari para brahmin di sini
Satwa-satwa fabel langka yang dipahatkan di relief candi
Masih berkeliaran bahagia

Wahai Wilbrodus
Wahai Sulaiman

Hutanmu adalah hutan Barzanzi
Hutan yang meredam gema tepukan makhluk-makhluk tak kelihatan
Hutan yang kangen sinkopasi bunyi rebana auman macan dan desis bunga liar

Dan Antigone akan memapah ayahnya yang buta
Berdasar petunjuk cericit burung
Betapapun tak bertemu dengan Theseus, sang raja Athena
Sampailah perjalanan mereka ke singasana dewa
*

CATATAN REDAKSIONAL OLEH IRZI RISFANDI

Ketika Oedipus Nyasar ke Jawa: Seno, Mitologi, dan Hutan yang Bicara dengan Logat Nusantara

Kau bisa langsung mendengarnya sebelum sempat membaca bait kedua: desir angin yang membawa aroma dupa, suara burung kecil dari balik daun, dan entah bagaimana, gema langkah Oedipus yang tiba-tiba terdengar di lereng Borobudur. Begitulah puisi “Di Perbatasan” membuka dirinya—bukan dengan pengantar yang sopan, tapi dengan teleportasi lintas benua. Seno Joko Suyono tidak memperkenalkan tokoh, tidak menjelaskan konteks; ia langsung mencomot mitologi Yunani dan melemparkannya ke hutan Jawa, seperti seorang kurator seni yang sedang iseng menggabungkan patung Hermes dengan arca Ganesha di ruang pamer yang sama. Tapi, ajaibnya, semua itu terasa natural. Pembaca tidak tersesat—hanya sedikit bengong, lalu tersenyum, menyadari bahwa ini bukan sekadar puisi, melainkan lintasan waktu dan budaya yang disulap jadi peta perjalanan spiritual.

Seno adalah penyair yang tidak pernah puas hanya dengan satu lapis realitas. Ia menyelipkan lapisan-lapisan lain: sejarah, mitologi, dan imajinasi, semua disatukan tanpa minta izin pada genre mana pun. Dalam “Di Perbatasan”, Thebes dan Colonus tidak lagi tempat di Yunani, tapi metafor untuk perbatasan eksistensial: antara Barat dan Timur, antara pengasingan dan penerimaan, antara manusia dan takdirnya sendiri. Ada ironi yang halus—bahwa Oedipus, sang raja buta yang mencari kejelasan, justru menemukan arah melalui “cericit burung”. Humor Seno di sini begitu lembut dan cerdas, seperti seseorang yang menertawakan absurditas dunia tanpa perlu tertawa keras-keras.

Namun, di balik kecerdasan intertekstualnya, puisi ini juga mengundang sedikit kritik yang manis: kadang, Seno terlalu dermawan terhadap simbol. Hutan di sini menjadi hutan Barzanzi, hutan beringin, hutan teologis, hutan spiritual, dan hutan musikal. Semua menarik, tapi pembaca mungkin ingin satu ruang untuk bernapas—untuk merasakan kehadiran Oedipus sebagai manusia, bukan hanya ikon peradaban yang sedang transit. Puisi ini begitu padat referensi sampai nyaris seperti katalog pameran mitologis yang indah tapi rapat. Jika Seno menambahkan satu-dua jeda emosional—barangkali sebaris napas kesendirian dari Oedipus di tengah “rebana auman macan”—puisinya akan punya denyut yang lebih membumi.

Tentu saja, kepadatan itu bukan tanpa sebab. Seno bukan penyair sembarangan yang kebetulan hafal mitos Yunani dari Wikipedia. Ia alumnus Filsafat UGM—kampus yang melahirkan lebih banyak perenung daripada pegawai negeri—dan kini belajar arkeologi di Universitas Indonesia. Ia tahu betul bagaimana mitos, batu, dan doa bisa berbicara dalam satu bahasa. Maka ketika ia menulis “pohon beringin bekas tempat seorang pangeran mendapat pencerahan,” kita bisa membayangkan Seno berdiri di depan candi, mengintip relief, lalu berpikir: “Bagaimana kalau kisah Sophocles ternyata pernah mampir ke Nusantara?”

Sebagai pendiri Borobudur Writers and Cultural Festival, Seno sudah terbiasa mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu ruang wacana. Puisinya adalah perpanjangan tangan dari perannya sebagai kurator budaya—ia mengkurasi gagasan, bukan artefak. Dalam “Di Perbatasan”, ia tidak hanya menulis tentang perbatasan geografis, tapi juga perbatasan makna: bagaimana mitos global bisa terasa lokal, bagaimana kebudayaan bisa berdialog tanpa merasa harus menang. Ia memperlakukan sejarah seperti alat musik gamelan: kompleks, harmonis, dan selalu menyisakan gema.

Dan jangan lupa: sebelum menjadi penyair, Seno adalah redaktur kebudayaan Majalah Tempo selama lebih dari dua dekade. Mungkin itu sebabnya puisinya terasa seperti laporan lapangan yang tersesat di taman mistik. Ada disiplin jurnalistik dalam setiap barisnya—tepat, efisien—namun sekaligus ada keisengan seorang penyair yang tiba-tiba ingin membuat Oedipus minum teh di warung kolonial. Seno menulis dengan kepala seorang filsuf dan hati seorang dalang. Ia tahu kapan harus serius, dan kapan harus membiarkan kata-kata menari seperti wayang yang sedang bosan menunggu giliran tampil.

Puisi “Di Perbatasan” bukan hanya soal mitos yang berpindah rumah. Ini adalah puisi tentang pertemuan—antara nasib dan pengetahuan, antara Barat yang mencari cahaya dan Timur yang sudah sejak lama duduk di bawahnya. Seno, dengan gaya khasnya yang tenang tapi jenaka, memperlihatkan bahwa dunia sastra bukan tentang garis batas, melainkan tentang kemungkinan. Dan di tangan seorang penyair-filsuf seperti dia, bahkan kutukan Delphi pun bisa terdengar seperti doa yang dibisikkan di tengah kabut Magelang.

2025

*

Dari Panggung Godot

Kita semua adalah Vladimir
yang susah membedakan wortel dan lobak
Kita selalu berpura-pura religius
Dan selalu berpikir bahwa akan terselamatkan di hari akhir
Tapi tak pernah tahu pohon ranggas di belakang
Adalah metafora salib

Kita semua adalah Estragon
Yang sulit mencopot sepatu bot dari kaki bau
Jempol telah sobek oleh luka diabetes dan kuku-kuku hitam dekil
Otak kita selalu terlambat memahami isyarat
Seorang anak kecil yang tiba-tiba muncul pun
Kita anggap malaikat yang memberi tahu penundaan datangnya sang mesias

Dan kita semua terpana melihat
Seseorang menggendong koper berjalan sempoyongan
Dicambuk dari belakang
Kita mengira itu pertunjukan sirkus yang bakal penuh hiburan
Kita tertawa terbahak-bahak karena menganggapnya lucu
Padahal sedikit lagi, adegan itu mengancam kita

Di bukit tandus itu
Kita adalah aktor-aktor kesepian
Yang tak pernah memahami lakon absurd yang kita mainkan

*

Telik Sandi

“Para pengembara yang menyiram bensin
dan membuang molotov ke pos pos polisi di kabupaten
adalah kaki tangan Panji Tumbal, Baginda.”

“ Para petualang yang menjarah
Rumah-rumah wedana dan memecahkan keramik-keramik Cina di pendapa
Adalah bala tentara Aryo Gundu, Baginda,”

“Baginda raja tua, aku telik sandimu, yang mengabdi puluhan tahun
Jauh dari dusta dan tipu daya, bersaksi
Mereka semua adalah suruhan Reso dan Ratu Dara
Baginda, boleh menganggap kudeta adalah tahayul”

“Seribu tail emas telah dibagikan ke para pengkhianat
Mataku melihat, siasat mereka merangkak
Harga-harga telah sengaja dilambungkan
Beras,jagung hilang dari pasar pasar kadipaten
perahu pengangkut disabotase “

“Baginda jangan lena. Usia uzur dan encok
Adalah sasaran mereka yang berpura-pura
perih matanya karena terkena gas air mata”

“Perintahkan para panji dan adipati tetap di ibu kota, Baginda
Wajibkan mereka tiap hari lapor ke Balai Penghadapan
Agar pembakaran gedung-gedung tak merambat dari kadipaten ke kadipaten
Kepada para pembangkang itu berikanlah kata-kata yang mengambang
Supaya mereka tak mengira pembalasan lebih cepat dari rencana mereka”

Seno Joko Suyono, pernah belajar di Fakultas Filsafat UGM. Mendirikan Borobudur Writers and Cultural Festival (Bwcf) pada tahun 2012 dan menjadi kuratornya sampai sekarang.Pernah bekerja sebagai redaktur Kebudayaan di Majalah Tempo lebih dari 20 tahun. Menulis dua Kumpulan sajak: Di Teater Dionysos (2020) dan Marka (2024). Sekarang penulis lepas,dan belajar arkeologi di FIB Universitas Indonesia.

Author: