AKU CINTA PADA-MU (4)

(1)

Kekasih, akulah Jakarta yang semerawut
dengan pemakaman umum tak terawat

Tiba-tiba banjir bandang menerjang
bah tumpah dari delapan penjuru angin
liar, seperti prajurit kesetanan

Ke mana kau akan mengungsi?
Berlindunglah di ruang batinku
satu-satunya kuburan tak terendam

(2)

Aku tak bisa lagi memberi irama pada cuaca
sedang si penakluk angin yang berpengalaman
dengan wajah tirus dan jaring di genggaman
telah mangkat ke akhir hikayat
tinggal aku, kota yang sarat angkara
harus merawat-mu dari wabah dan musibah

Hari ini tak ada mendung yang menggantung
di atas rumah-mu. Tak terdengar halilintar
tersesat alamat. Ledakan petir telah lindap
tapi hujan tak pernah letih menari
dengan seluruh jiwanya
kau akan kuyup. Rapuh seperti kapal
terbengkelai di gigir pantai
kau akan demam dan meracau

(3)

Kudatangi laut
siapa tahu memendam kesumat
kujenguk langit
dan bersilaturahmi ke sarang badai

— kami baik-baik saja — kata mereka

Memang tak kulihat hujan yang
semestinya tengah mendengkur
di sebalik Istana Musim Kemarau

(4)

Aku tak mengerti perasaaanku
apakah membeku seperti batu
atau mengalir deras, tak terbendung
bahkan tak kutemukan kesengsaraan
yang dapat mengucurkan tangisan

Tapi selalu kucemaskan kau
karena kepastian makin sulit direncanakan
kucemaskan kau karena petaka lebih dekat
dari urat leher. Kucemaskan kau
karena laku peradaban telah senja

2002

*

Author:

Doddi Ahmad Fauji