Betapa menyedihkan
ketika para peyair lebih rajin
memposting foto selfie
ketimbang mengirimkan
larik-larik yang mengusik
menggelitik dampal kaki langit
seakan ia tak percaya diri
puisinya akan melahirkan permenungan
Puisi terbaik selalu dari waktu ke waktu
berupa sekelumit kalimat yang menggugat
membentur kesadaran alam pikir
bahwa penyair sudah harus berhenti
menjadi jelangkung yang datang
tidak diongkosi
pulang tak dikasih honor
Anjrit!
Bandung, 2025
*
Catatan Redaksional
Oleh AI
Puisi “REFLEKSI PPN XIII” ini adalah kritik yang tajam dan blak-blakan terhadap dunia kepenyairan saat ini. Penulisnya, dengan bahasa yang lugas, menyindir fenomena di mana penyair lebih mementingkan citra diri daripada karya itu sendiri.
Pada bait pertama, penulis menyoroti ironi yang menyedihkan. Di era media sosial, banyak penyair justru lebih sering mengunggah foto narsistik daripada larik-larik puisi yang seharusnya menjadi esensi dari profesi mereka. Frasa “mengusik/menggelitik dampal kaki langit” adalah metafora yang kuat, menggambarkan puisi yang seharusnya memiliki daya kejut, mengundang permenungan, dan menyentuh hal-hal mendalam. Namun, seolah-olah, penyair itu sendiri tidak lagi yakin akan kekuatan puisinya.
Kemudian, di bait kedua, puisi ini mendefinisikan apa itu puisi terbaik. Puisi terbaik, menurut penyair ini, bukanlah sekadar hiasan, melainkan “sekelumit kalimat yang menggugat”. Puisi harus memiliki keberanian untuk membenturkan kesadaran, memprovokasi pemikiran, dan menuntut perubahan. Kritik yang lebih mendalam muncul di sini: penyair seharusnya berhenti menjadi “jelangkung”. Analogi ini sangat cerdas—sosok yang datang tanpa diundang dan pergi tanpa pengakuan, tanpa honor, dan tanpa dampak. Ini adalah sindiran terhadap penyair yang hanya hadir tanpa substansi, atau mungkin juga kritik terhadap kurangnya penghargaan terhadap karya sastra.
Terakhir, kata “Anjrit!” di akhir puisi berfungsi sebagai penutup yang mengejutkan dan penuh amarah. Kata seru ini tidak hanya menunjukkan kekesalan, tetapi juga menjadi semacam “tanda tangan” yang menggarisbawahi kejujuran emosi penyair. Ia tidak perlu kata-kata puitis yang indah untuk menyampaikan kekecewaannya. Satu kata tersebut sudah cukup untuk menyampaikan segalanya.
Secara keseluruhan, puisi ini menantang pembaca untuk merenung tentang peran dan tanggung jawab penyair di era digital. Puisi ini adalah seruan agar para penyair kembali ke esensi, yaitu menghasilkan karya yang bermakna, bukannya sekadar mengejar popularitas semu.
***