Menghidupkan Ruh Puisi — Seluk Beluk dan Petunjuk Menulis Puisi — Doddi Ahmad Fauji

Ada banyak yang berpendapat, seperti halnya “Cinta”, karya “Puisi” pun kadang tidak logis atau boleh tidak logis. Penulis dalam buku ini justru berpandangan bahwa puisi adalah karya logika, hasil dari berlogika, sebab apa yang dituangkan oleh sang penulis (pemuisi) adalah upaya untuk mencari atau menerangkan ‘kebenaran’ menurut persi dia. Upaya untuk mencari kebenaran itulah yang disebut kegiatan berfilsafat. Ya, pada akhirnya berpuisi adalah kerja berfilsafat. Adapun dasar dari seseorang dapat berfilsafat dengan tepat, adalah manakala ia dapat berpikir logis secara radikan. Karena itu, puisi yang baik, menurut buku ini, harus memenuhi empat kategori logika, yaitu:
1. Logika indrasi
2. Logika bahasa
3. Logika komunikasi
4. Logika cerita

Jika ada puisi yang menggunakan larik-larik tidak logis, sangat mungkin karena si penulis (pemuisi) tengah menggunakan gaya bahasa atau majas. Di dalam majas, terdapat beberapa kecuali semiotik yang seakan-akan tidak logis, misalnya: petir membelah bumi (majas hiperbolis). Secara logika dan fakta, petir tidak dapat membelah bumi, namun dalam kasus ini dibesar-besarkan, dihiperbolis, seakan-akan petir dapat membelah bumi.

Tuturan lengkapnya, dapat dibaca melalui buku setebal 180 halaman tersebut.

RP.80.000 (+Ongkir)

ISBN 978-602-5434-785

Cetakan Pertama, Januari 2019
Cetakan Kedua, Maret 2019
Cetakan Ketiga, Desember 2019
Cetakan Keempat, Oktober 2021
Cetakan Kelima, Mei 2024

Editor, Musliha Wardana
Tata Letak, Bhara ZD
Desain sampul, Anis Widyaningsih
Pembaca Teks,
Dede Wahyuni, Siti Nurlailah Maulidiah

Diterbitkan oleh
SituSeni: admin 0831-4160-9833